Teolog Tanggapi Pernyataan Paus Fransiskus: Gereja Juga Rumah bagi Kaum LGBTQ

Paus Fransiskus mengeluarkan pernyataan supaya orangtua tidak mengutuk anak-anaknya yang punya orientasi seksual gay atau homoseksual. Sebaliknya, dia justru mendorong supaya orangtua memberikan dukungan kepada mereka.
Hal itu disampaikan oleh Paus Fransiskus dalam audiensi mingguan terkait dengan kesulitan yang dapat dihadapi orangtua dalam membesarkan anak, Rabu (26/1).
“Orangtua yang melihat orientasi seksual yang berbeda pada anak-anak mereka dan bagaimana menangani ini, bagaimana menemani anak-anak mereka, dan tidak bersembunyi di balik sikap mengutuk,” kata Paus Fransiskus seperti dimuat Reuters pada Kamis (27/1).
Teolog Dogmatik Pendidikan Keagamaan Katolik, di Yogyakarta, Romo Patrisius Mutiara Andalas, mengatakan pernyataan Paus tersebut merupakan terobosan pastoral supaya gereja dapat menjadi rumah yang nyaman dan aman untuk semua kalangan, termasuk orang-orang dengan orientasi seksual LGBTQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queer).
Pernyataan ini sekaligus juga memberikan afirmasi bahwa sikap gereja telah mengalami perubahan dan mengakui kalau pada masa lalu sikapnya masih sangat diskriminatif terhadap orang-orang LGBTQ.
“Ketika rumah-rumah lain belum terbuka, baik itu masyarakat, keluarga, atau tempat kerja, dan macam-macam lingkungan yang seringkali masih sangat diskriminatif untuk mereka, gereja hadir untuk menemani peziarahan spiritual mereka (orang-orang LGBTQ),” kata Romo Andalas ketika dihubungi, Kamis (27/1).
Pernyataan ini juga merupakan lanjutan dari pernyataan-pernyataan Paus sejak beberapa tahun terakhir yang memang cukup peduli dengan isu tersebut. Menurut Romo Andalas, Paus Fransiskus sangat menyadari bahwa orang-orang, termasuk dirinya, masih sangat sedikit mengetahui tentang kehidupan kaum LGBTQ, terutama kehidupan spiritual mereka.
Paus juga pernah mengeluarkan pernyataan yang sangat fenomenal pada 2013 tentang kaum LGBTQ. Kata dia, “Siapakah saya ini sehingga punya hak untuk menghakimi mereka (LGBTQ)?”. Pernyataan itu menurut Romo Andalas juga berarti ajakan kepada semua umat untuk tidak menempatkan diri sebagai seseorang yang lebih beriman, atau secara spiritual lebih tinggi ketimbang orang-orang LGBTQ.
“Itu adalah penilaian yang sewenang-wenang. Jangan dikira mereka yang punya orientasi seksual LGBTQ bukan pencari Tuhan, mereka pencari Tuhan yang sangat tekun,” lanjutnya.
Hal itu dapat dilihat terutama dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan, dimana mereka justru seringkali berada di garis paling depan dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Karena itu, para kaum LGBTQ ini juga berhak untuk mendapatkan tempat yang setara dalam lingkungan keagamaan termasuk Gereja Katolik, sebagai oase bagi mereka ketika tempat-tempat lain belum bisa menerima mereka.
Karena itu, setiap orang menurut Romo Andalas, harus lebih berhati-hati dalam memberikan penilaian terhadap para LGBTQ. Jangan terlalu gampang menghakimi mereka sebagai pendosa yang tidak menghidupi moralitas agama. Gereja menurutnya perlu belajar dari Yesus, bahwa hal pertama yang harus dilakukan adalah menerima mereka dengan tangan terbuka.
Pernyataan-pernyataan Paus sebelumnya tentang penerimaan terhadap kaum LGBTQ menurut Romo Andalas juga telah membuahkan hasil yang positif. Para umat Katolik dengan orientasi seksual LGBTQ yang sebelumnya banyak berada di luar gereja karena sikap gereja yang sangat keras terhadap mereka, kini sudah banyak yang kembali lagi ke gereja.
“Karena mereka merasa ada perubahan yang sangat fundamental di dalam gereja terhadap mereka, gereja jadi lebih inklusif,” kata Romo Patrisius Mutiara Andalas. (Widi Erha Pradana / YK-1)
