Walhi: Wisata Gunungkidul sudah Lampaui Target, Tak Perlu Beach Club Raffi Ahmad
·waktu baca 2 menit

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Yogyakarta, menilai Gunungkidul tak membutuhkan beach club yang rencananya akan dibangun oleh Raffi Ahmad cs di kawasan Pantai Krakal pada tahun 2024 ini.
Beach club tersebut disebut oleh Raffi akan menjadi yang terbesar di Indonesia. Tak hanya itu, ia juga akan membangun 300 unit villa, tiga restoran, hingga spa di kawasan seluas 10 hektare tersebut.
Direktur Walhi Yogyakarta, Gandar Mahojwala, menjelaskan alasan mengapa Gunungkidul tak membutuhkan beach club kelas internasional tersebut karena dengan destinasi yang ada sekarang target investasi wisata di Gunungkidul telah tercapai, bahkan sudah melampaui target yang ditentukan.
“Target investasi Gunungkidul tahun kemarin sudah tercukupi, bahkan melampaui,” kata Gandar kepada Pandangan Jogja, Rabu (3/1) kemarin.
Berdasarkan catatan Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Gunungkidul, selama tiga tahun terakhir capaian investasi pariwisata di Gunungkidul memang selalu melampaui target yang ditentukan.
Pada 2021 misalnya, dari target investasi sebesar Rp 261 miliar, realisasinya mencapai Rp 282,8 miliar. Tahun berikutnya, dari target investasi sebesar Rp 341 miliar, realisasinya tercatat sebesar Rp 634,4 miliar.
Sedangkan pada tahun 2023 kemarin, dari target investasi sebesar Rp 447 miliar, per November 2023 realisasinya sudah mencapai Rp 451,4 miliar.
“Jadi sebenarnya tidak perlu destinasi yang sangat berpotensi merusak kawasan karst yang sangat penting untuk bentang alam Gunungkidul,” lanjutnya.
Gandar menilai, dengan proyek sebesar itu, di mana akan dibangun beach club terbesar di Indonesia dan 300 unit villa, mustahil kawasan karst di sekitarnya tidak rusak. Padahal kawasan tersebut merupakan bagian dari World Geopark Gunung Sewu yang telah ditetapkan oleh UNESCO.
Jika kawasan karst tersebut rusak, Gunungkidul tak hanya menghadapi ancaman pencabutan status tersebut oleh UNESCO. Berbagai potensi dampak lingkungan jangka panjang sangat mungkin terjadi, misalnya hilangnya fungsi penyerapan karbon oleh kawasan karst tersebut.
Selain itu, fungsi kawasan karst sebagai penyerap dan penyimpan air tanah di kawasan tersebut. Hal itu menurut Gandar sangat berpotensi memperparah kondisi kekeringan yang selalu terjadi setiap tahun di wilayah Gunungkidul.
“Kekeringan di Gunungkidul itu belum pernah selesai, tetapi dengan adanya proyek ini mungkin saja akan timbul risiko kekeringan yang semakin parah. Dengan rencana yang sudah disampaikan oleh Raffi Ahmad, hampir mustahil itu tidak merusak lingkungan,” ujar Gandar Mahojwala.
