Wisatawan Asal Jakarta dan Kaltim Disebut Paling Banyak Belanja di Jogja
·waktu baca 2 menit

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Deddy Pranowo Eryono, mengatakan bahwa wisatawan dari Jakarta membelanjakan uangnya paling banyak saat berwisata ke Jogja dibandingkan wisatawan dari daerah lain.
“Untuk wisatawan Nusantara yang nilai belanjanya paling tinggi masih didominasi wisatawan DKI Jakarta,” kata Deddy Pranowo saat dihubungi Pandangan Jogja @Kumparan, Selasa (28/6).
Hal itu menurut Deddy dilihat dari kebiasaan para wisatawan ketika pulang ke hotel setelah seharian jalan-jalan di Jogja. Wisatawan dari Jakarta biasanya yang paling banyak membawa oleh-oleh, terutama makanan seperti bakpia.
“Wisatawan DKI kalau pulang ke hotel pasti belanjaannya banyak, tapi kita tidak punya datanya berapa nilai belanja mereka,” ujarnya.
Posisi kedua wisatawan domestik dengan belanja paling banyak menurut dia ditempati oleh wisatawan dari Jawa Barat, sedangkan di peringkat ketiga dari Jawa Timur. Sementara untuk wisatawan luar Jawa yang nilai belanjanya paling tinggi menurut Deddy berasal dari Kalimantan Timur.
Tiap daerah juga memiliki karakteristik masing-masing. Jika wisatawan Jakarta lebih suka membeli oleh-oleh berupa makanan khas, wisatawan dari Jawa Barat dan luar Jawa menurut Deddy lebih suka membeli suvenir seperti baju, kerajinan, atau pernak-pernik lain khas Yogyakarta.
“Kalau Jawa Timur itu lebih cenderung kombinasi antara makanan khas dan suvenir,” ujarnya.
Tingginya tingkat belanja ini terutama dipengaruhi oleh upah minimum di tiap daerah. Semakin tinggi upah minimum, membuat daya beli masyarakat juga semakin tinggi. Saat ini, 10 besar Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) tertinggi di Indonesia memang semuanya diisi oleh kabupaten atau kota dari tiga provinsi, yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Timur.
“Jadi tidak heran kalau tingkat belanja mereka juga tinggi,” ujarnya.
Memasuki musim liburan sekolah tahun ini, wisatawan yang datang ke Jogja juga sudah mulai mengalami peningkatan meski belum setinggi saat musim libur Lebaran kemarin. Hingga akhir Juni, angka reservasi hotel berbintang menurut Deddy sudah mencapai kisaran 40-60 persen, sedangkan untuk hotel non-bintang ada di kisaran 30 persen.
Dia memperkirakan, jumlah itu akan terus meningkat hingga puncaknya antara tanggal 1 sampai 3 Juli mendatang.
“Target kami hampir sama lah dengan libur Lebaran kemarin, sekitar 80 persen,” kata Deddy Pranowo Eryono.
Meski begitu, Deddy menekankan kepada seluruh pengelola hotel dan restoran di Jogja untuk tetap memberlakukan protokol kesehatan kendati aturan sudah semakin longgar. Pasalnya kemungkinan terjadinya ledakan penularan COVID-19 masih ada, apalagi saat ini kasusnya kembali meningkat.
