Konten dari Pengguna

13 Kata Mutiara Buya Hamka yang Sarat Makna dan Penuh Hikmah

Pengetahuan Umum

Pengetahuan Umum

Menyediakan berbagai informasi seputar Generasi Z.

·waktu baca 5 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pengetahuan Umum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi buku berisi kumpukan kata mutiara Buya Hamka. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi buku berisi kumpukan kata mutiara Buya Hamka. Foto: Pexels

Buya Hamka dikenal sebagai salah satu ulama, sastrawan, dan pemikir besar Indonesia yang memiliki pengaruh luar biasa dalam dunia keagamaan dan sastra. Pemilik nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini juga seringkali menyampaikan banyak kata-kata bijak yang tetap relevan hingga kini.

Kata mutiara Buya Hamka tidak sekadar petuah moral, tetapi juga refleksi kehidupan yang sarat dengan nilai keikhlasan, perjuangan, cinta, dan keteguhan iman. Ucapannya menyentuh hati karena lahir dari pengalaman spiritual yang mendalam dan pemikiran yang luas.

Dalam artikel ini, telah kami sediakan kumpulan kata mutiara Buya Hamka yang dapat menjadi inspirasi hidup, motivasi dalam menghadapi kesulitan, serta pengingat untuk terus berjalan di jalan yang benar.

Kata Mutiara Buya Hamka

Ilustrasi buku berisi kumpukan kata mutiara Buya Hamka. Foto: Pexels

Berikut kumpulan kata mutiara dari Buya Hamka yang dikutip dari buku Membangunkan Diri Membangkitkan Umat karangan Qosim Nurseha Dzulhadi.

  1. Bertambah luas akal, bertambah luaslah hidup, bertambah datanglah bahagia. Bertambah sempit akal, bertambah sempit pula hidup, bertambah datanglah celaka. Oleh agama perjalanan bahagia itu telah diberi berakhir. Puncaknya yang penghabisan ialah kenal akan Tuhan, baik ma'rifat kepada-Nya, baik taat kepada-Nya dan baik sabar atas musibah-Nya. Tidak ada lagi hidup di atas itu.

  2. Salat itu sendiri pun adalah doa. Sejak kita mengucapkan Takbiratul Ihram (Allahu Akbar) kita telah mulai menghamparkan sayap harapan kepada Allah dengan mengakui kecilnya diri kita sendiri di hadapan kebesaran Ilahi. Bahkan, seluruh alam ini pun menjadi kecil belaka. Pikiran dan ingatan kita, manusia yang kecil ini pun dihimpunkanlah kepada Yang Mahabesar.

  3. Terlalu banyak aliran penghidupan ini yang harus dilalui oleh manusia. Jika hari ini kita memperoleh kenikmatan, belum bisa kita percaya bahwa nikmat itu akan senantiasa kekal kita pegang. Jika hari ini kita sengsara, kita tidak boleh putus harapan menyangka bahwa sengsara itu akan tidak berganti-ganti selamanya dengan kesenangan.

  4. Jangan tertawakan orang yang jatuh. Tapi marilah bersyukur sebab kita tidak jatuh. Memang sulit jalan yang kita tempuh. Lebih sulit dari yang dapat dikira-kira. Marah adalah kebiasaan orang bersama. Tetapi belas-kasihan adalah kebiasaan orang yang utama.

  5. Demikianlah lukisan hati Margaretta, demikianlah rahasia kehidupannya. Dia seorang perempuan yang telah rusak, tetapi tidak rela dengan kerusakannya. Perempuan muda yang lain jatuh ke dalam lembah pelacuran sebagaimana kejahatannya itu, namun jarang yang sadar akan kejatuhannya.

  6. Meskipun Rasul sudah diutus, ayat sudah diberikan, Al-Qur'an sudah diwahyukan, hikmah sudah diajarkan, kiblat sudah terang pula, semua tidak ada artinya, kalau tidak ingat kepada Allah (dzikir) dan bersyukur.

  7. Umat manusia yang tidak memiliki pegangan Tauhid dalam dadanya bisa saja turut tenggelam dan hancur dibawa gelombang keangkuhan manusia itu sehingga hilang kepribadiannya.

  8. Segala yang menyebabkan kamu berat pergi itu hanyalah bekal di dunia belaka. Rumah yang akan ditinggalkan, kebun yang akan dipetik isinya, keenakan duduk di rumah bercengkrama dengan anak istri; semuanya itu hanya bekal hidup sementara, yang tidak ada artinya jika dibandingkan dengan nikmat Allah yang akan kamu terima di akhirat, karena taat dan patuh menjalankan perintah Allah.

  9. Karena kalau kesadaran berkorban, berjuang, dan berperang bagi menegakkan agama Allah sudah mulai padam dalam hati, alamat akan kehilangan segala kemerdekaan dan kebebasan yang telah ada pada negara, bangsa dan agama.

  10. Kerap kali, yang dapat diperbudak oleh orang lain ialah pemuda-pemuda yang sok tahu. Pemuda yang ditimpa penyakit rendah diri-mentang-mentang sudah dibawa orang bergaul dalam masyarakat yang agak "Barat" sifatnya, ia belum merasa progressif kalau belum turut bersorak mengatakan bahwa Islam harus pandai menyesuaikan diri kalau mau maju.

  11. Maka insaflah manusia akan kelemahan dirinya, dan insaf akan Maha Besarnya Yang Ada itu. Maka menyerahlah dia dengan segala rela hati. Penyerahan yang demikian dalam bahasa Arab dinamai Islam.

  12. Tuhan memisalkan agama Islam dengan sepohon kayu yang rindang rimbun di tengah padang yang luas.

  13. Uratnya terhunjam ke petala bumi. Cabangnya menjulang ke petala langit, batangnya tempat bersandar, uratnya tempat bersila, daunnya tempat berteduh dari hujan, tempat bernaung di hari panas; buahnya akan dipetik dari zaman ke zaman. Bekasnya kekal dalam tubuh dan jiwa, untuk bahagia dunia dan akhirat. Atau laksana pelita di tengah-tengah malam, dia tidak condong ke Barat dan tidak condong ke Timur, tetapi meratai bumi seluruhnya.

Profil Singkat Buya Hamka

Buya Hamka, bernama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah, lahir pada 17 Februari 1908 di Sungai Batang, Sumatera Barat. Ia berasal dari keluarga ulama besar ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), dikenal sebagai tokoh pembaharu Islam di Minangkabau.

Sejak kecil, Hamka mempelajari ilmu agama di surau dan sekolah desa, kemudian memperdalam bahasa Arab serta ilmu tafsir. Ia merantau ke Yogyakarta dan berinteraksi dengan tokoh-tokoh Islam modern seperti H.O.S. Tjokroaminoto, sebelum melanjutkan perjalanan ke Mekkah untuk menunaikan haji dan memperluas pengetahuan agama.

Sebagai ulama dan sastrawan, Hamka dikenal melalui karya monumentalnya seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, dan Tafsir Al-Azhar. Menurut jurnal University of Malaya, pemikiran moral Hamka berakar pada ajaran Islam yang mengedepankan akhlak, ilmu, dan kebijaksanaan.

Dalam bidang sosial, ia aktif di Muhammadiyah dan menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama pada tahun 1975, berperan besar dalam pembentukan moral keagamaan bangsa. Pemikiran Hamka menekankan bahwa Islam dan nasionalisme adalah dua hal yang saling melengkapi.

Ia percaya bahwa iman harus mendorong umat untuk mencintai tanah air dan berkontribusi pada kemajuan bangsa. Setelah wafat pada 24 Juli 1981 di Jakarta, Hamka dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia atas jasanya dalam dakwah dan pendidikan moral. Pemikirannya masih terus dikaji di berbagai negara, termasuk dalam riset akademik internasional seperti di ResearchGate, yang menyoroti kontribusinya terhadap pendidikan Islam modern.

Baca juga: 100 Kata Bijak tentang Waktu yang Tak Bisa Kembali

(NDA)