Konten dari Pengguna
13 Kata Mutiara Buya Hamka yang Sarat Makna dan Penuh Hikmah
14 Oktober 2025 16:26 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
13 Kata Mutiara Buya Hamka yang Sarat Makna dan Penuh Hikmah
Berikut kumpulan kata mutiara Buya Hamka yang dapat menjadi inspirasi, motivasi ,serta pengingat diri.Pengetahuan Umum
Tulisan dari Pengetahuan Umum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Buya Hamka dikenal sebagai salah satu ulama, sastrawan, dan pemikir besar Indonesia yang memiliki pengaruh luar biasa dalam dunia keagamaan dan sastra. Pemilik nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini juga seringkali menyampaikan banyak kata-kata bijak yang tetap relevan hingga kini.
ADVERTISEMENT
Kata mutiara Buya Hamka tidak sekadar petuah moral, tetapi juga refleksi kehidupan yang sarat dengan nilai keikhlasan, perjuangan, cinta, dan keteguhan iman. Ucapannya menyentuh hati karena lahir dari pengalaman spiritual yang mendalam dan pemikiran yang luas.
Dalam artikel ini, telah kami sediakan kumpulan kata mutiara Buya Hamka yang dapat menjadi inspirasi hidup, motivasi dalam menghadapi kesulitan, serta pengingat untuk terus berjalan di jalan yang benar.
Kata Mutiara Buya Hamka
Berikut kumpulan kata mutiara dari Buya Hamka yang dikutip dari buku Membangunkan Diri Membangkitkan Umat karangan Qosim Nurseha Dzulhadi.
ADVERTISEMENT
Profil Singkat Buya Hamka
Buya Hamka, bernama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah, lahir pada 17 Februari 1908 di Sungai Batang, Sumatera Barat. Ia berasal dari keluarga ulama besar ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), dikenal sebagai tokoh pembaharu Islam di Minangkabau.
Sejak kecil, Hamka mempelajari ilmu agama di surau dan sekolah desa, kemudian memperdalam bahasa Arab serta ilmu tafsir. Ia merantau ke Yogyakarta dan berinteraksi dengan tokoh-tokoh Islam modern seperti H.O.S. Tjokroaminoto, sebelum melanjutkan perjalanan ke Mekkah untuk menunaikan haji dan memperluas pengetahuan agama.
Sebagai ulama dan sastrawan, Hamka dikenal melalui karya monumentalnya seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, dan Tafsir Al-Azhar. Menurut jurnal University of Malaya, pemikiran moral Hamka berakar pada ajaran Islam yang mengedepankan akhlak, ilmu, dan kebijaksanaan.
ADVERTISEMENT
Dalam bidang sosial, ia aktif di Muhammadiyah dan menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama pada tahun 1975, berperan besar dalam pembentukan moral keagamaan bangsa. Pemikiran Hamka menekankan bahwa Islam dan nasionalisme adalah dua hal yang saling melengkapi.
Ia percaya bahwa iman harus mendorong umat untuk mencintai tanah air dan berkontribusi pada kemajuan bangsa. Setelah wafat pada 24 Juli 1981 di Jakarta, Hamka dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia atas jasanya dalam dakwah dan pendidikan moral. Pemikirannya masih terus dikaji di berbagai negara, termasuk dalam riset akademik internasional seperti di ResearchGate, yang menyoroti kontribusinya terhadap pendidikan Islam modern.
(NDA)
ADVERTISEMENT

