Asal Usul Bukit Kelam Menurut Legenda Kalimantan Barat, Ini Kisah Lengkapnya
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Asal Usul Bukit Kelam Menurut Legenda Kalimantan Barat menjadi salah satu cerita rakyat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Kisah ini tidak hanya menjelaskan terbentuknya Bukit Kelam di Kabupaten Sintang, tetapi juga menyimpan nilai-nilai kehidupan yang masih relevan hingga sekarang.
Di balik kemegahan batu monolit yang menjadi ikon Kalimantan Barat, terdapat legenda tentang persaingan, keserakahan, serta kebijaksanaan yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat setempat.
Asal Usul Bukit Kelam Menurut Legenda Kalimantan Barat
Asal Usul Bukit Kelam Menurut Legenda Kalimantan Barat dikisahkan dalam cerita rakyat yang dimuat di laman Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan.
Legenda tersebut mengisahkan dua tokoh keturunan dewa, yaitu Bujang Beji atau Sebeji dan Temenggung Marubai, yang memiliki sifat sangat bertolak belakang.
Bujang Beji dikenal serakah dan gemar berbuat semaunya, sedangkan Temenggung Marubai merupakan sosok yang bijaksana serta peduli terhadap kelestarian alam.
Perbedaan sifat keduanya kemudian menjadi awal dari peristiwa yang dipercaya sebagai asal mula terbentuknya Bukit Kelam.
Temenggung Marubai mencari ikan dengan cara yang bijaksana. Ia hanya menangkap ikan yang sudah besar dan melepaskan kembali ikan-ikan kecil agar populasinya tetap terjaga.
Berbeda dengan itu, Bujang Beji justru menggunakan racun saat menangkap ikan sehingga persediaan ikan di wilayahnya semakin berkurang. Melihat hasil tangkapan Temenggung Marubai yang selalu melimpah, rasa iri mulai menguasai hati Bujang Beji.
Didorong oleh rasa dengki, Bujang Beji berniat menutup aliran Sungai Melawi agar seluruh ikan berkumpul di satu tempat. Dengan kesaktiannya, ia mengangkat puncak Bukit Batu dari Nanga Silat dan membawanya menggunakan ikatan tujuh lembar daun ilalang. Batu raksasa itu akan dijatuhkan ke hulu sungai sebagai penghalang aliran air.
Di tengah perjalanan, para dewi di kayangan menertawakan tingkah Bujang Beji. Saat menoleh ke arah langit, ia tidak menyadari telah menginjak duri beracun.
Rasa sakit membuat keseimbangannya hilang hingga ikatan daun ilalang terputus. Puncak Bukit Batu pun jatuh di sebuah rantau bernama Jetak dan menancap kuat sehingga tidak dapat dipindahkan lagi.
Bujang Beji masih berusaha memindahkan batu tersebut dengan menggunakan sebuah bukit memanjang sebagai alat untuk mencongkel. Namun usahanya kembali gagal karena bukit itu justru patah menjadi dua. Kegagalan tersebut membuat amarahnya semakin memuncak.
Karena menyalahkan para dewi atas kegagalannya, Bujang Beji kemudian menanam pohon kumpang mambu yang tumbuh menjulang tinggi.
Pohon itu hendak digunakan sebagai jalan menuju kayangan untuk membalas dendam. Sebelum memanjatnya, ia menggelar upacara adat dengan memberikan sesaji kepada berbagai binatang dan roh di sekitarnya.
Rayap dan beruang ternyata tidak memperoleh bagian sesaji. Keduanya kemudian bekerja sama untuk menggagalkan rencana Bujang Beji.
Saat ia memanjat pohon kumpang mambu, rayap menggerogoti bagian akarnya hingga pohon itu roboh. Bujang Beji terjatuh bersama pohon tersebut dan akhirnya meninggal dunia.
Menurut legenda, puncak Bukit Batu yang jatuh itulah yang kemudian menjadi Bukit Kelam. Bukit yang digunakan untuk mencongkel batu dikenal sebagai Bukit Liut, sedangkan bukit yang diinjak Bujang Beji saat terkena duri disebut Bukit Rentap.
Itulah asal usul Bukit Kelam menurut legenda Kalimantan Barat yang tidak hanya menjelaskan terbentuknya bentang alam tersebut, tetapi juga mengajarkan bahwa keserakahan dan iri hati hanya akan membawa kerugian, sedangkan kebijaksanaan serta kepedulian terhadap sesama akan memberikan kebaikan.(Arif)
Baca juga: Asal Usul Sungai Kapuas Berdasarkan Cerita Rakyat yang Berkembang