Asal Usul Grebeg dan Berbagai Fakta Uniknya
Membagikan informasi dari berbagai topik.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Grebeg merupakan salah satu tradisi budaya yang hingga kini masih lestari di berbagai daerah di Pulau Jawa. Bagi sebagian orang, tradisi ini mungkin hanya tampak sebagai perayaan yang meriah. Di balik prosesi tersebut tersimpan asal usul grebeg dan fakta uniknya.
Setiap kali perayaan Grebeg digelar, ribuan masyarakat berbondong-bondong memenuhi kawasan keraton untuk menyaksikan arak-arakan gunungan hasil bumi. Arak-arakan tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat setempat.
Asal Usul Grebeg, Tradisi yang Masih Melekat di Pulau Jawa
Tradisi Grebeg merupakan salah satu upacara adat yang masih rutin diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta hingga saat ini. Berikut adalah asal usul grebeg beserta fakta uniknya berdasarkan situs web kratonjogja.id.
Asal usul kata Garebeg atau Grebeg memiliki arti "diiringi oleh banyak orang". Makna tersebut terlihat dari prosesi arak-arakan gunungan yang dikawal oleh prajurit dan abdi dalem dari dalam keraton menuju Masjid Gedhe Kauman.
Ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa istilah Grebeg berasal dari kata gumrebeg. Kata ini berarti suara riuh atau gemuruh yang muncul ketika masyarakat berkumpul menyaksikan upacara tersebut.
Para ahli meyakini bahwa Grebeg berakar dari tradisi Jawa kuno bernama Rajawedha, yaitu kebiasaan raja memberikan sedekah kepada rakyat. Rajawedha dianggap sebagai simbol tanggung jawab pemimpin dalam mewujudkan kesejahteraan.
Setelah Islam berkembang di tanah Jawa, tradisi tersebut tidak dihilangkan. Tradisi ini disesuaikan dengan nilai-nilai Islam sehingga tetap dapat diterima masyarakat.
Hingga kini, Grebeg diselenggarakan untuk memperingati hari-hari besar Islam. Contohnya adalah Grebeg Mulud, Grebeg Syawal, dan Grebeg Besar.
Puncak acara Grebeg adalah keluarnya gunungan dari dalam keraton. Gunungan dibuat dari berbagai hasil bumi, seperti sayuran, buah-buahan, palawija, serta aneka makanan tradisional yang disusun menyerupai gunung.
Gunungan tersebut melambangkan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan sekaligus harapan agar masyarakat memperoleh kemakmuran. Setelah didoakan oleh Kyai Penghulu di Masjid Gedhe, isi gunungan diperebutkan oleh masyarakat.
Masyarakat percaya hasil gunungan yang telah didoakan membawa berkah bagi kehidupan, pertanian, maupun usaha yang dijalankan. Keunikan lain dari Grebeg adalah beragam jenis gunungan yang disiapkan Keraton Yogyakarta.
Contoh-contoh gunungan tersebut adalah Gunungan Kakung, Gunungan Putri, Gunungan Darat, Gunungan Gepak, dan Gunungan Pawuhan. Pada tahun-tahun tertentu dalam penanggalan Jawa, Keraton juga membuat Gunungan Brama atau Gunungan Kutug.
Tradisi ini bukan sekadar tontonan budaya, tetapi juga mengandung pesan bahwa seorang pemimpin berkewajiban mengayomi rakyat, dan berbagi rezeki. Grebeg juga dilaksanakan untuk menjaga keharmonisan hubungan antara pemerintah, ulama, dan masyarakat.
Memahami asal usul Grebeg dapat berguna untuk melihat bahwa tradisi ini merupakan bagian penting dari identitas budaya Indonesia. Oleh karena itu, Grebeg menjadi salah satu warisan budaya yang terus dilestarikan sebagai simbol persatuan, rasa syukur, dan kepedulian. (Fia)
Baca juga: Asal Usul La Moelu, Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara