Konten dari Pengguna

Budaya Indonesia yang Berasal dari Kerajaan, Jejak Kejayaan Masa Lampau

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Budaya Indonesia yang Berasal dari Kerajaan, Foto:Unsplash/Nick Agus Arya
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Budaya Indonesia yang Berasal dari Kerajaan, Foto:Unsplash/Nick Agus Arya

Keberadaan kerajaan Hindu-Buddha maupun kerajaan Islam di berbagai wilayah Nusantara turut membentuk perkembangan budaya Indonesia yang berasal dari kerajaan.

Pengaruh tersebut dapat terlihat melalui berbagai bentuk peninggalan dan kebiasaan yang masih dikenal hingga kini.

Pengaruh Budaya Indonesia yang Berasal dari Kerajaan

Ilustrasi Budaya Indonesia yang Berasal dari Kerajaan, Foto:Unsplash/Bisma Mahendra

Budaya Indonesia yang berasal dari kerajaan masih dapat ditemukan dalam berbagai tradisi yang terus diwariskan hingga sekarang.

Dikutip dari laman budaya.jogjaprov.go.id, salah satunya adalah upacara labuhan yang berkembang dalam lingkungan Keraton Yogyakarta.

Tradisi ini merupakan bagian dari upacara adat yang pelaksanaannya berkaitan dengan adat kebiasaan dan kepercayaan masyarakat pada masa lalu.

Istilah labuhan berasal dari kata labuh, yang memiliki arti sama dengan larung, yaitu membuang sesuatu ke dalam air, baik sungai maupun laut. Dalam pelaksanaannya, labuhan dilakukan dengan memberikan sesaji kepada roh halus yang dipercaya menguasai suatu tempat.

Awal mula upacara labuhan berkaitan dengan masa pemerintahan Panembahan Senopati. Pada awal pemerintahannya, Panembahan Senopati berusaha memperoleh dukungan moril untuk memperkuat kedudukannya.

Dukungan tersebut dipercaya diperoleh dari Kanjeng Ratu Kidul, yang diyakini sebagai penguasa laut selatan atau Samudra Indonesia.

Panembahan Senopati kemudian membuat perjanjian kerja sama dengan Kanjeng Ratu Kidul, yang bersedia membantu menghadapi berbagai kesulitan. Sebagai imbalannya, Panembahan Senopati memberikan persembahan dalam bentuk upacara labuhan.

Pada masa berikutnya, labuhan berkembang menjadi tradisi di Kerajaan Mataram dan tetap dilaksanakan oleh para raja setelah Panembahan Senopati.

Tradisi tersebut terus dipertahankan hingga Kerajaan Mataram terbagi menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta melalui Perjanjian Giyanti pada 1755.

Dalam perkembangannya, pelaksanaan labuhan memiliki waktu dan tempat tertentu serta berkaitan dengan keselamatan Sri Sultan, Keraton Yogyakarta, dan rakyat Yogyakarta.

Selain labuhan, terdapat beberapa istilah dan rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan tradisi keraton, seperti Labuhan Dalem, Tingalan Dalem, Wiyosan Dalem, dan Sajen Labuhan.

Setiap bagian memiliki ketentuan tersendiri, mulai dari waktu pelaksanaan hingga persiapan benda-benda yang digunakan dalam upacara.

Pembahasan mengenai budaya Indonesia yang berasal dari kerajaan dapat memperlihatkan bagaimana tradisi masa lalu tetap menjadi bagian dari kehidupan budaya di Indonesia. (KIKI)

Baca juga: Filosofi Tari Pendet Sebagai Tari Penyambutan di Masyarakat Bali