Cerita Rakyat Enyeng: Pesan Moral dan Pandangan Menurut Budaya Sumedang
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cerita rakyat Enyeng menjadi salah satu bukti kekayaan budaya di Indonesia. Kisahnya berakar dari legenda zaman dahulu tentang tokoh penting penyebar ajaran agama Islam di wilayah Sumedang.
Kisah tentang Enyeng berkembang di Desa Cipancar, Kecamatan Sumedang Selatan, Jawa Barat. Hingga kini, banyak masyarakat yang masih percaya kisah tersebut untuk melestarikan budaya leluhur.
Makna Cerita Rakyat Enyeng tentang Menghargai Leluhur
Mengutip laman garuda.kemdiktisaintek.go.id, cerita rakyat Enyeng berdasarkan budaya Sumedang, ada kaitannya dengan penggantian penyebutan istilah kucing menjadi sebutan lain yang berbeda.
Lebih lanjutnya, tradisi ini disebut-sebut lahir dengan tujuan untuk menghormati leluhur penyebar agama Islam bernama Mbah Dalem Prabu Madu Ucing (Embah Tajur).
Konon, beliau memiliki pantangan yaitu tidak mau menyebut kata kucing karena alasan tertentu.
Pada awalnya, Embah Tajur merupakan tokoh sakti penyebar ajaran Sunda kuno (Jati Sunda). Setelah Islam masuk di tanah Sunda, beliau mulai berguru kepada Pangeran Geusan Ulun pada tahun 1573 M.
Dalam rangka menghormati ketaatan dan menghargai jasa sang leluhur, masyarakat Cipancar membuat kesepakatan khusus.
Mereka tidak lagi menggunakan kata kucing, tetapi menggantinya dengan kata ènyèng, mèong, atau emèng.
Meski budaya modern sudah berkembang pesat, tetapi masyarakat Cipancar tetap mematuhi aturan yang telah disepakati secara turun temurun.
Bukan hanya sebagai wujud penghormatan, hal itu juga dilakukan dengan tujuan pelestarian budaya lokal.
Bukan mitos belaka, sejarah penggantian istilah kucing menjadi enyeng mencerminkan kepatuhan masyarakat terhadap pendahulu mereka serta eratnya nilai sosial kemasyarakatan.
Berdasarkan cerita di atas, pesan moral yang dapat diambil adalah seseorang penting untuk menghargai leluhur dan memegang teguh keyakinannya di manapun, meski saat merantau sekalipun.
Satu pelajaran yang dapat diambil yaitu kita sudah selayaknya menyebut makhluk ciptaan Tuhan lainnya dengan sebutan yang baik. Tidak malah menyebutnya sembarangan atau melakukan kekerasan.
Mengetahui cerita rakyat Enyeng ternyata begitu menarik, terlebih pedan moralnya cukup mendalam, tentang kepatuhan masyarakat terhadap orang terdahulu meski seluruhnya telah tiada. (NOV)
Baca juga: Kisah Meong Palo Karellae, Cerita Rakyat Bugis tentang Kucing Ajaib