Kisah Meong Palo Karellae, Cerita Rakyat Bugis tentang Kucing Ajaib
Membagikan informasi dari berbagai topik.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kisah Meong Palo Karellae merupakan cerita rakyat yang sudah turun temurun dari Suku Bugis di Sulawesi Selatan. Mengisahkan tentang seekor kucing belang ajaib.
Masyarakat percaya jika kucing tersebut ada kaitannya dengan perlindungan tanaman padi serta hubungan manusia dan hewan.
Kisah Meong Palo Karellae, Bukan Kucing Biasa
Mengutip buku Sejarah Indonesia: Penilaian Kembali Karya Utama Sejarawan Asing, Taufik Abdullah, Edi Sedyawati, (1997:100), kisah Meong Palo Karellae merupakan cerita tentang kucing belang berwarna-warni.
Bukan kucing biasa, kucing ini dipercaya sebagai penjaga Sang Hyang Sri (Putri Padi). Dahulu kala diceritakan bahwa pada mulanya, Meong Palo Karellae hidup bersama tuannya dengan damai.
Sayangnya, hidupnya berubah drastis ketika ia berpindah tuan. Kepalanya bahkan sempat dipukul dengan keras menggunakan gagang parang karena ketahuan mencuri.
Demi menyelamatkan dirinya, Meong Palo Karellae lari terbirit-birit, hingga berhenti di suatu rumah. Melihat nasi dan tulang ikan yang tersaji, kucing tersebut kemudian memakannya dengan lahap.
Sang pemilik rumah yang mengetahui ada kucing tidak dikenal masuk rumahnya memutuskan melemparinya dengan sakeang (papan untuk alas membersihkan ikan).
Meong Palo Karellae kembali berlari menyelamatkan diri menuju rakkeang (lumbung padi) yang menjadi tempat tinggalnya Sang Hyang Sri (Dewi Padi).
Dewi Sri yang mendengar keributan kemudian terbangun dari istirahatnya. Sang dewi yang marah melihat perlakuan pemilik rumah kepada Meong langsung meninggalkan rumah mencari tempat baru.
Namun sayangnya pencariannya tidak ada hasil, Dewi Sri-pun memutuskan untuk kembali ke langit. Sesampainya di sana, ia mengadu kepada ayahnya mengenai perilaku manusia di bumi.
Batara Guru yang mendengar cerita putrinya kemudian memberinya nasehat dan memerintahkan kembali ke bumi. Dengan berat hati, sang dewi kembali ke bumi saat tengah malam, tepatnya di Barru.
Di tempat baru, Dewi Sri mendapatkan sambutan baik yang membuatnya merasa sangat dihargai.
Meskipun begitu, sang dewi tetap memberi syarat agar masyarakat menerima sekaligus menjalankan 11 amanah dari Batara Guru.
Demikian Kisah Meong Palo Karellae yang mengandung pengajaran baik tentang menghargai sesama makhluk Tuhan dan kisahnya juga dikaitkan dengan dewa dewi.
Masyarakat Bugis Sulawesi Selatan mengetahui kisah ini melalui dua jalur, pertama berupa manuskrip yang ditulis menggunakan aksara lontara.
Kedua yakni tradisi massureq, yakni pembacaan cerita Bugis yang dilakukan oleh pemangku adat. (NOV)
Baca juga: Legenda Benteng Keraton Buton, Kisah Bersejarah yang Masih Dipercaya hingga Kini