Cerita Rakyat Watu Dodol Banyuwangi dalam Masa Penjajahan Belanda
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kekuatan mistis tidak jauh dari cerita rakyat Watu Dodol Banyuwangi. Konon nenek moyang bangsa Indonesia sakti mandraguna, sehingga dalam cerita rakyat mudah melakukan sesuatu di luar nalar.
Di samping cerita mistis yang mengiringinya, Watu Dodol saat ini dijadikan sebagai objek wisata alam dengan pemandangan memukau. Banyak wisatawan berdatangan untuk menikmati pemandangannya.
Cerita Rakyat Watu Dodol Banyuwangi yang Belum Banyak Diketahui
Mengutip Buku Pintar Nusantara, Iwan Gayo (1990:620), cerita rakyat Watu Dodol Banyuwangi berkaitan dengan sebuah batu besar yang membelah jalan penghubung Banyuwangi - Situbondo.
Lokasinya berada di Desa Ketapang, Kecamatan Kediri, Kabupaten Banyuwangi. Berdasarkan kepercayaan turun temurun, Watu Dodol dikatakan dapat memberi sumber rezeki berlimpah.
Asal usul munculnya Watu Dodol bermula di zaman penjajahan Belanda. Saat itu Residen Schophoff ingin membuat jalan dari Banyuwangi menuju Panarukan, tetapi jalurnya terhalang bukit.
Tumenggung Wiroguno I yang saat itu memimpin Banyuwangi kemudian mengadakan sayembara.
Siapapun yang bisa membuat jalan menembus bukit, maka akan diberi hadiah berupa tanah yang membentang dari bukit batu itu ke selatan sampai Sukowidi.
Setelah menunggu berbulan-bulan tidak ada yang menyanggupi sayembara tersebut, Tumenggung Wiroguno I yang kebingungan tiba-tiba teringat dengan penasehatnya dulu bernama Ki Buyut Jaksa.
Ki Buyut Jaksa merupakan seorang pertapa sakti mandraguna yang saat itu sedang mengasingkan diri di bukit Boyolangu.
Saat di pengasingan, ia mengangkat anak bernama Nur Iman yang selalu setia menemaninya.
Singkat cerita, Tumenggung Wiroguno I akhirnya berhasil membujuk Ki Buyut Jaksa untuk membantunya membuat jalan menembus bukit batu.
Guna mempermudah misinya, Ki Buyut Jaksa mengerahkan para jin beserta anak buahnya. Dalam waktu sangat singkat, mereka berhasil membuat jalan di bukit batu di bawah pengarahan Nur Iman.
Namun, bantuan bangsa jin dan pasukannya tentu tidak gratis. Mereka memberi beberapa syarat berupa:
Jangan mendodol batu di luar batas yang telah ditetapkan bangsa Jin.
Sisakan batu di area pinggir pantai yang bisa digunakan untuk duduk.
Ki Buyut Jaksa beserta anak cucunya harus menyambangi tempat ini minimal satu tahun sekali.
Aturan itulah yang melatarbelakangi pengambilan nama Watu Dodol. Watu berarti batu, sementara dodol berarti bongkar.
Kehebatan nenek moyang bangsa Indonesia salah satunya bisa diketahui dalam cerita rakyat Watu Dodol Banyuwangi yang berkaitan erat dengan dunia jin. (NOV)
Baca juga: Mengapa Menak Jingga Menjadi Musuh Damarwulan Menurut Legenda Rakyat Jawa Timur