Filosofi Batik Truntum untuk Pernikahan Adat Jawa
Membagikan informasi dari berbagai topik.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Filosofi Batik Truntum untuk pernikahan adat Jawa berkaitan erat dengan makna cinta yang tumbuh kembali.
Dikutip dari Kementerian Agama Bantul (http://bantul.kemenag.go.id/siswa-xi-f-man-2-bantul-angkat-filosofi-batik-truntum-dalam-kelas-bahasa-jawa), Batik Truntum merupakan salah satu motif batik Jawa yang diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana, permaisuri Pakubuwana III dari Surakarta.
Motif batik ini sering digunakan dalam upacara adat. Truntum melambangkan cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin berkembang. Karena makna tersebut, kain bermotif Truntum biasa dikenakan oleh orang tua pengantin pada hari pernikahan.
Filosofi Batik Truntum untuk Pernikahan Adat Jawa
Filosofi Batik Truntum untuk Pernikahan Adat Jawa tidak hanya berkaitan dengan keindahan motif pada kain, tetapi juga menyimpan harapan bagi kehidupan kedua mempelai.
Dalam tradisi Jawa, motif Truntum digunakan sebagai simbol kasih sayang yang terus tumbuh dan berkembang. Makna tersebut menjadi doa agar hubungan pasangan pengantin dipenuhi cinta yang tulus dan dapat bertahan dalam kehidupan rumah tangga.
Batik Truntum juga memiliki hubungan erat dengan peran orang tua dalam pernikahan. Kain bermotif Truntum umumnya dikenakan oleh orang tua pengantin sebagai bentuk kasih sayang sekaligus doa untuk anak yang memasuki kehidupan baru.
Kehadiran motif tersebut menjadi pengingat bahwa restu dan dukungan orang tua tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan rumah tangga.
Selain melambangkan cinta yang tumbuh kembali, Batik Truntum kadang dimaknai sebagai simbol tuntunan. Orang tua yang mengenakan kain Truntum diharapkan dapat memberikan tuntunan kepada kedua mempelai ketika mulai menjalani kehidupan sebagai pasangan suami istri.
Makna ini membuat Batik Truntum memiliki kedudukan khusus dalam rangkaian pernikahan adat Jawa.
Motif Truntum sendiri memiliki pola berupa bentuk-bentuk kecil yang tersusun memenuhi permukaan kain. Kesederhanaan coraknya justru memberikan karakter tersendiri dan membuatnya mudah dikenali sebagai salah satu motif batik Jawa.
Dalam konteks pernikahan, keindahan motif tersebut berpadu dengan nilai filosofis yang berkaitan dengan cinta, kasih sayang, restu, dan tuntunan keluarga.
Dengan makna tersebut, Batik Truntum tidak sekadar menjadi pelengkap busana dalam pernikahan adat Jawa. Kain ini membawa pesan tentang cinta yang terus tumbuh serta harapan orang tua terhadap kehidupan rumah tangga anaknya.
Filosofi tersebut membuat Batik Truntum tetap menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Jawa yang sarat dengan simbol dan makna.(Yolan)
Baca juga: Mengapa Setiap Suku Punya Motif Kain Berbeda? Ternyata Ini Alasannya