Filosofi Gamelan, Harmoni Bunyi yang Menyimpan Nilai Kehidupan
Membagikan informasi dari berbagai topik.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Filosofi gamelan dapat dilihat dari cara setiap instrumen memainkan perannya masing-masing untuk membentuk satu kesatuan irama.
Meskipun memiliki suara, fungsi, dan karakter yang berbeda, seluruh perangkat tersebut dapat berpadu secara harmonis ketika dimainkan bersama.
Keunikan tersebut membuat gamelan tidak hanya menarik untuk dinikmati sebagai karya seni, tetapi juga menyimpan nilai yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Mengenal Filosofi Gamelan dalam Budaya Nusantara
Filosofi gamelan Jawa tidak hanya berkaitan dengan bunyi dan permainan musik tradisional, tetapi juga menggambarkan proses yang dilalui manusia untuk mencapai kemenangan atau menjadi pribadi yang baik.
Menurut informasi dari rri.co.id, lima nada dalam gamelan Jawa, yaitu Neng, Ning, Nung, Nang, dan Gung, memiliki makna yang menggambarkan tahapan perjalanan seseorang dalam mengendalikan diri.
Rangkaian tersebut merupakan salah satu contoh ajaran Budaya Jawa yang tidak terlepas dari konsep keagamaan.
1. Neng, Proses Menahan Hawa Nafsu
Neng berasal dari kata meneng yang berarti diam. Tahapan ini menunjukkan proses seseorang dalam menahan hawa nafsu. Dengan menepikan hawa nafsunya, seseorang kemudian dapat menuju tahap berikutnya, yaitu Ning.
2. Ning, Mencapai Keheningan Diri
Ning berasal dari kata wening, yang berarti mendapatkan keheningan dalam diri. Pada tahap ini, seseorang dapat mengelola suasana hatinya sehingga mampu melanjutkan proses menuju tahap berikutnya.
3. Nung, Sadar Akan Diri dan Tuhan
Setelah mendapatkan keheningan dalam diri, seseorang akan menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang hamba dari Tuhan Yang Maha Segalanya. Tahapan tersebut disebut Nung, yang berasal dari kata dunung dan berarti sadar diri, memahami siapa dirinya serta siapa Tuhannya.
4. Nang, Berhasil Mengalahkan Hawa Nafsu
Tahap selanjutnya adalah Nang, yang berasal dari kata menang. Makna tersebut menunjukkan bahwa seseorang telah berhasil mengalahkan hawa nafsunya. Setelah melewati proses tersebut, perjalanan kemudian berlanjut menuju tahap terakhir, yaitu Gung.
5. Gung, Mencapai Pribadi yang Baik
Gung berasal dari kata agung, yang berarti telah mencapai pribadi yang baik. Dengan demikian, urutan Neng, Ning, Nung, Nang, dan Gung menggambarkan proses yang saling berkaitan dalam perjalanan seseorang untuk mengendalikan diri hingga mencapai kemenangan.
Filosofi gamelan tersebut menjadi salah satu contoh ajaran Budaya Jawa yang tetap berkaitan dengan konsep keagamaan. Melalui rangkaian makna tersebut, manusia diingatkan untuk tetap menyadari bahwa kehidupan memiliki satu sumber, yakni Tuhan Yang Maha Esa. (DANI)
Baca juga: Apa Perbedaan Gamelan Jawa dan Bali? Simak Ciri Khasnya