Konten dari Pengguna

Kenapa Anjing Suka Mengejar Ekornya? Ini Fakta Menariknya

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kenapa Anjing Suka Mengejar Ekornya, Foto:Unsplash/Victor G
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kenapa Anjing Suka Mengejar Ekornya, Foto:Unsplash/Victor G

Kenapa anjing suka mengejar ekornya menjadi hal yang menarik untuk dipahami, terutama ketika kebiasaan tersebut dilakukan berulang kali.

Pada sebagian anjing, mengejar ekor mungkin terlihat seperti aktivitas spontan saat sedang bersemangat atau memiliki banyak energi.

Ada pula yang melakukannya ketika sedang mencari sesuatu untuk mengalihkan perhatian.

Kenapa Anjing Suka Mengejar Ekornya Saat Beraktivitas?

Ilustrasi Kenapa Anjing Suka Mengejar Ekornya, Foto:Unsplash/Joe Caione

Kenapa anjing suka mengejar ekornya menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan ketika melihat anjing berlari berputar-putar sambil berusaha menangkap bagian tubuhnya sendiri.

Sekilas, perilaku tersebut memang tampak seperti permainan yang menggemaskan. Namun, kebiasaan ini dapat muncul karena berbagai alasan, mulai dari rasa bosan, kebutuhan untuk menyalurkan energi, hingga kondisi tertentu yang membuat anjing merasa tidak nyaman.

Dikutip dari laman vcahospitals.com, anjing yang terlalu lama dibiarkan sendiri dapat merasa bosan karena kurang mendapatkan rangsangan. Bahkan ketika berada di halaman, ruang yang terbatas tetap dapat membuat aktivitas terasa monoton.

Untuk menghibur diri sekaligus melepaskan energi yang menumpuk, anjing terkadang mengejar ekornya karena aktivitas tersebut membuat tubuhnya bergerak.

Jika kebiasaan ini muncul karena kurangnya aktivitas fisik harian, menambah olahraga dapat membantu. Pemilik dapat mengajak anjing berjalan-jalan atau bermain lempar tangkap bola sehingga energi dapat tersalurkan melalui kegiatan lain.

Sementara itu, anjing yang hanya merasa bosan dapat diberikan permainan makanan yang membutuhkan waktu dan kemampuan berpikir untuk diselesaikan.

Faktor usia juga dapat memengaruhi kebiasaan mengejar atau menggigit ekor. Anak anjing sering melakukannya ketika mulai mengenali bagian tubuhnya sendiri.

Pada usia tersebut, ekor dapat dianggap sebagai mainan, sehingga kebiasaan mengejarnya biasanya hanya berlangsung sementara dan tidak memerlukan penanganan khusus.

Sebaliknya, anjing yang sudah tua dapat menggigit ekornya karena kesadarannya terhadap lingkungan dan tubuh mulai berkurang.

Ketika kemampuan mental menurun, perilaku berulang, termasuk menggigit ekor, dapat semakin sering muncul. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan gangguan kognitif yang mungkin membutuhkan obat untuk membantu mengubah perilakunya.

Perhatian dari pemilik juga dapat menjadi alasan lain. Karena tingkah mengejar ekor sering membuat orang tertawa, anjing dapat belajar bahwa perilaku tersebut mampu menarik perhatian.

Bahkan teguran tetap dianggap sebagai perhatian, sehingga perilaku itu justru dapat semakin kuat. Untuk mengatasinya, anjing sebaiknya tidak diberi perhatian ketika sedang berputar mengejar ekor, tetapi dipuji ketika sudah berhenti.

Namun, apabila anjing tiba-tiba mulai mengejar atau menggigit ekornya, pemeriksaan oleh dokter hewan diperlukan.

Rasa sakit, luka, gangguan saraf, parasit usus seperti cacing pita, kutu, alergi makanan, hingga kelenjar anal yang tersumbat dapat membuat anjing menggigit bagian tersebut untuk meredakan rasa tidak nyaman.

Penanganannya bergantung pada penyebab dan dapat meliputi perawatan luka, pengobatan parasit atau kutu, penanganan alergi, serta pengosongan kelenjar anal yang tersumbat.

Selain itu, mengejar ekor dapat berkembang menjadi perilaku kompulsif.

Anjing dengan kecemasan saat ditinggal, terlalu bersemangat ketika melihat pengunjung atau hewan lain, maupun yang terbiasa menggigit ekor setelah mengalami luka dapat terus mengulangi kebiasaan tersebut meskipun pemicunya sudah tidak ada.

Jika dilakukan terus-menerus, ekor bahkan dapat mengalami luka yang sulit sembuh.

Karena itu, pemilik perlu mengamati situasi yang biasanya memicu perilaku tersebut. Pengalihan perhatian dapat dilakukan sebelum anjing mulai mengejar ekornya.

Misalnya, ketika melihat burung menjadi pemicu, permainan lempar tangkap dapat diberikan sebelum perilaku tersebut dimulai. Pada anjing yang cemas ketika ditinggal, teknik saat akan meninggalkan rumah dapat diterapkan.

Perubahan perilaku terkadang juga perlu disertai obat yang memengaruhi kadar serotonin atau dopamin, sedangkan luka pada ekor tetap perlu dirawat secara bersamaan. (KIKI)

Baca juga: Kenapa Burung Menggoyangkan Kepala? Temukan Jawabannya di Sini