Kenapa Minyak Goreng Berbusa Saat Digunakan? Ini Penyebabnya
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenapa minyak goreng berbusa saat digunakan menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan karena minyak memiliki karakteristik tertentu yang dapat berubah selama proses pemanasan.
Selain itu, bahan makanan yang dimasukkan ke dalam wajan juga dapat memengaruhi tampilan minyak ketika bersentuhan dengan suhu tinggi.
Karena itu, perubahan kecil yang terlihat saat menggoreng sebenarnya tidak selalu muncul tanpa sebab.
Kenapa Minyak Goreng Berbusa Saat Digunakan dan Apa yang Memengaruhi Perubahan pada Minyak?
Kenapa minyak goreng berbusa saat digunakan menjadi hal yang cukup menarik untuk diperhatikan, terutama ketika perubahan tersebut muncul secara tiba-tiba saat proses memasak.
Minyak yang awalnya tampak jernih dapat berubah menjadi dipenuhi gelembung atau busa setelah bahan makanan dimasukkan ke dalam wajan.
Kondisi ini sering kali membuat penggunaan minyak terasa berbeda, apalagi jika busa terlihat lebih banyak dibandingkan biasanya.
Namun, kemunculan busa tidak selalu berarti minyak telah rusak atau tidak dapat digunakan lagi. Baik minyak yang masih baru maupun yang sudah pernah dipakai dapat mengalami kondisi tersebut karena adanya berbagai faktor selama proses penggorengan.
Secara ilmiah, busa terbentuk dari gelembung uap air yang berasal dari bahan pangan ketika terkena minyak panas.
Berdasarkan informasi dari rri.co.id, pada minyak baru, gelembung tersebut dapat bertahan lebih lama karena adanya protein dan partikel tepung halus dari makanan.
Protein menghasilkan molekul amfifilik yang membantu menjaga kestabilan gelembung, sedangkan partikel tepung dapat membentuk lapisan pelindung sehingga gelembung tidak mudah pecah.
Akibatnya, permukaan minyak terlihat berbusa selama proses memasak berlangsung.
Pada minyak yang telah digunakan berulang kali, busa dapat lebih mudah muncul karena minyak mengalami degradasi akibat pemanasan.
Proses tersebut menghasilkan senyawa baru yang bersifat amfifilik, sehingga gelembung menjadi lebih stabil.
Kondisi ini dapat menjadi salah satu tanda penurunan mutu minyak, meskipun kemunculan busa bukan satu-satunya parameter untuk menentukan kelayakan minyak.
Perubahan kualitas minyak biasanya berlangsung secara bertahap, seperti meningkatnya asam lemak bebas, terbentuknya produk oksidasi, menurunnya titik asap, warna yang semakin gelap, tekstur yang lebih kental, hingga munculnya bau tengik.
Namun, perubahan tersebut tidak selalu terjadi secara berurutan karena dapat dipengaruhi oleh jenis minyak, suhu penggorengan, lama pemanasan, serta bahan pangan yang dimasak.
Karena itu, kondisi minyak sebaiknya tidak dinilai hanya berdasarkan ada atau tidaknya busa.
Beberapa indikator lain juga perlu diperhatikan secara bersamaan, termasuk busa yang menetap, warna minyak yang semakin gelap, minyak yang lebih cepat berasap, tekstur yang semakin kental, serta munculnya bau tengik.
Semakin banyak tanda tersebut terlihat secara bersamaan, semakin besar kemungkinan mutu minyak telah menurun dan sudah tidak layak digunakan. (DANI)
Baca juga: Asal Usul Sungai Kapuas Berdasarkan Cerita Rakyat yang Berkembang