Kenapa Tahun Baru Dirayakan pada Tanggal 1 Januari? Ini Sejarahnya
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenapa tahun baru dirayakan pada tanggal 1 Januari? Setiap akhir Desember, orang-orang di berbagai negara mulai bersiap menyambut pergantian tahun, dari menyiapkan acara bersama hingga membuat resolusi untuk tahun berikutnya.
Tanggal 1 Januari familiar sebagai penanda tahun baru. Namun, di balik kebiasaan tersebut ada perjalanan panjang yang membuat tanggal ini akhirnya dikenal luas sebagai awal tahun.
Sejarah Terkait Kenapa Tahun Baru Dirayakan pada Tanggal 1 Januari?
Kenapa tahun baru dirayakan pada tanggal 1 Januari? Mengutip situs https://www.britannica.com, tahun baru yang dirayakan setiap 1 Januari ternyata tidak selalu menjadi awal tahun dalam sejarah kalender.
Pada masa lalu, beberapa wilayah menggunakan tanggal lain sebagai penanda pergantian tahun, seperti 25 Maret atau 25 Desember. Lantas, bagaimana tanggal 1 Januari akhirnya ditetapkan sebagai awal tahun?
Salah satu tokoh yang berperan dalam sejarah tersebut adalah Numa Pompilius, yakni seorang raja kedua Roma.
Menurut tradisi, pada masa pemerintahannya sekitar 715–673 SM, Numa melakukan perubahan terhadap kalender Romawi dengan menjadikan Januari sebagai bulan pertama, menggantikan Maret.
Pemilihan Januari dianggap sesuai karena nama bulan tersebut berasal dari Janus, dewa Romawi yang dikaitkan dengan awal dan permulaan. Sementara itu, Maret berkaitan dengan Mars, dewa perang dalam mitologi Romawi.
Meski demikian, terdapat bukti bahwa 1 Januari baru secara resmi ditetapkan sebagai awal tahun Romawi pada 153 SM. Kemudian, pada 46 SM, Julius Caesar melakukan pembaruan besar terhadap kalender Romawi.
Kalender yang dikenal sebagai kalender Julian tersebut tetap mempertahankan 1 Januari sebagai hari pertama dalam satu tahun. Seiring meluasnya Kekaisaran Romawi, penggunaan kalender Julian juga ikut menyebar ke berbagai wilayah.
Setelah Kekaisaran Romawi runtuh pada abad ke-5 Masehi, sejumlah negara Kristen mengubah awal tahun agar lebih sesuai dengan tradisi keagamaan mereka.
Akibatnya, 25 Maret, yang bertepatan dengan Pesta Kabar Sukacita (Feast of the Annunciation), dan 25 Desember, yang merupakan Hari Natal, sempat digunakan sebagai hari pertama tahun baru di berbagai tempat.
Penggunaan kalender Julian juga kemudian menimbulkan persoalan. Perhitungan tahun kabisat ternyata kurang tepat sehingga kalender perlahan mengalami pergeseran dari musim yang sebenarnya. Kesalahan tersebut juga menyulitkan penentuan tanggal Paskah.
Untuk mengatasi masalah itu, Paus Gregorius XIII memperkenalkan kalender Gregorian pada 1582. Kalender Gregorian tidak hanya memperbaiki sistem tahun kabisat, tetapi juga mengembalikan 1 Januari sebagai awal tahun.
Sejumlah negara seperti Italia, Prancis, dan Spanyol langsung mengadopsinya. Sementara itu, beberapa negara Protestan dan Ortodoks membutuhkan waktu lebih lama.
Inggris dan koloni-koloni Amerika, misalnya, baru menggunakan kalender Gregorian pada 1752. Sebelum itu, mereka masih merayakan Tahun Baru pada 25 Maret.
Seiring berjalannya waktu, kalender Gregorian juga digunakan oleh negara-negara di luar tradisi Kristen. China mulai menggunakannya pada 1912, meskipun masyarakatnya tetap mempertahankan perayaan Tahun Baru Imlek berdasarkan kalender lunar.
Hal serupa juga terjadi di berbagai negara lain yang menggunakan kalender Gregorian untuk keperluan umum, tetapi tetap mempertahankan kalender tradisional atau keagamaan masing-masing.
Kenapa alasan Tahun Baru dirayakan pada 1 Januari berkaitan dengan sejarah panjang kalender Romawi hingga pembentukan kalender Gregorian.
Penetapan Januari sebagai awal tahun sudah muncul sejak masa Romawi, kemudian dipertahankan dalam kalender Julian dan akhirnya ditegaskan kembali melalui kalender Gregorian yang kini menjadi kalender sipil paling banyak digunakan di dunia. (Fikah)
Baca juga: Mengapa Bumi Tidak Terasa Berputar? Ini Penjelasannya