Keyakinan atau Kepercayaan terhadap Benda-Benda Selain Tuhan dan Istilahnya
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam konteks agama, keyakinan atau kepercayaan terhadap benda-benda selain Tuhan disebut apa kerap dikaitkan dengan batas antara penghormatan dan penyembahan.
Istilah tersebut memiliki makna khusus ketika suatu objek diperlakukan seolah-olah memiliki kedudukan ilahi.
Perbedaan tersebut penting karena tidak setiap bentuk penghormatan kepada benda atau simbol keagamaan otomatis dianggap sebagai penyembahan.
Keyakinan atau Kepercayaan terhadap Benda-Benda Selain Tuhan Disebut
Dikutip dari britannica.com, keyakinan atau kepercayaan terhadap benda-benda selain Tuhan disebut pemujaan berhala atau idolatry apabila benda tersebut diperlakukan sebagai objek penyembahan yang kedudukannya disamakan dengan Tuhan.
Dalam tradisi Yudaisme dan Kekristenan, idolatry merujuk pada tindakan menyembah seseorang atau sesuatu selain Tuhan seolah-olah memiliki kedudukan sebagai Tuhan.
Larangan terhadap praktik tersebut juga berkaitan dengan perintah pertama dalam Sepuluh Perintah Allah yang menegaskan bahwa tidak boleh ada tuhan lain di hadapan Tuhan.
Bentuk pemujaan berhala dapat terlihat secara langsung melalui tindakan penghormatan atau penyembahan kepada objek tertentu.
Objek itu dapat berupa patung, benda langit seperti matahari, hewan, penguasa, maupun benda yang dianggap memiliki kekuatan khusus.
Salah satu contoh yang dikenal dalam Alkitab adalah penyembahan anak lembu emas oleh bangsa Israel ketika berada di kaki Gunung Sinai.
Peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana benda buatan dapat dijadikan sasaran pemujaan yang seharusnya ditujukan kepada Tuhan.
Makna idolatry tidak selalu terbatas pada penyembahan benda secara terbuka. Bentuk yang lebih halus dapat terjadi ketika seseorang memberikan kesetiaan, kepercayaan mutlak, atau pengabdian tertinggi kepada sesuatu yang sebenarnya merupakan ciptaan.
Dalam kerangka pemikiran Yudaisme dan Kekristenan, kecintaan terhadap bangsa, kekayaan, kekuasaan, manusia, atau hal lain tidak otomatis disebut pemujaan berhala.
Persoalannya muncul ketika sesuatu tersebut ditempatkan pada posisi yang seharusnya hanya dimiliki oleh Tuhan.
Pemakaian istilah idolatry juga perlu dibedakan dari penghormatan dalam praktik keagamaan tertentu.
Dalam pemikiran Kristen, misalnya, terdapat konsep perantaraan yang membuat sebagian bentuk penghormatan kepada figur atau simbol agama tidak selalu dipandang sebagai penyembahan terhadap objek itu sendiri.
Perbedaan penafsiran mengenai hal tersebut kemudian muncul dalam berbagai tradisi Kristen, termasuk dalam perdebatan mengenai penghormatan kepada Maria, para santo, kitab suci, maupun simbol keagamaan.
Dengan demikian, inti istilah ini terletak pada objek yang menerima pengabdian tertinggi dan bagaimana objek tersebut diposisikan dalam hubungan dengan Tuhan.
Pembedaan tersebut membantu menjelaskan mengapa penghormatan terhadap suatu benda tidak selalu memiliki arti yang sama dengan menyembah benda tersebut.
Keyakinan atau kepercayaan terhadap benda-benda selain Tuhan disebut idolatry ketika objek tersebut diperlakukan sebagai sesuatu yang memiliki kedudukan ilahi.
Maknanya berkaitan dengan pengalihan penyembahan dan pengabdian tertinggi dari Tuhan kepada selain-Nya. (Suc)
Baca Juga: Keyakinan bahwa Allah Itu Ada Padahal Allah Tidak Bisa Dilihat oleh Mata Manusia