Keyakinan bahwa Allah Itu Ada Padahal Allah Tidak Bisa Dilihat oleh Mata Manusia
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana kita bisa yakin bahwa Allah itu ada padahal allah tidak bisa dilihat oleh mata manusia? Pertanyaan ini muncul ketika seseorang mencoba memahami bagaimana keimanan bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Manusia memang terbiasa mengenali sesuatu melalui apa yang dapat dilihat, disentuh, atau dirasakan secara langsung.
Memahami Keyakinan bahwa Allah Itu Ada Padahal Allah Tidak Bisa Dilihat oleh Mata Manusia
Bagaimana kita bisa yakin bahwa Allah itu ada padahal Allah tidak bisa dilihat oleh mata manusia?
Keyakinan terhadap keberadaan Allah dapat dipahami dengan mengamati keteraturan alam semesta, menggunakan akal sehat, serta merenungkan berbagai tanda dari ciptaan-Nya.
Walaupun Allah tidak dapat dilihat secara langsung oleh mata manusia, terdapat berbagai hal yang dapat menjadi dasar untuk meyakini keberadaan-Nya.
Alam semesta yang tersusun dengan teratur, hubungan sebab akibat, keterbatasan penglihatan manusia, pengalaman dalam doa, serta penjelasan dalam Al-Qur'an menjadi bagian yang dapat diperhatikan dalam memahami keyakinan tersebut.
Dikutip dari Youtube @kumparan, salah satu hal yang dapat menjadi tanda keberadaan Allah adalah keteraturan alam semesta. Bumi, matahari, dan seluruh galaksi berjalan secara seimbang sehingga tidak saling bertabrakan.
Keteraturan tersebut menunjukkan adanya Maha Pencipta yang mengatur seluruh ciptaan. Alam semesta tidak hanya terdiri atas berbagai benda langit, tetapi juga memiliki keteraturan yang membuat setiap bagian berjalan sesuai dengan keadaan yang ada.
Selain keteraturan alam semesta, hukum sebab akibat juga dapat digunakan untuk memahami keberadaan Allah. Segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti memiliki sesuatu yang membuat atau menciptakannya.
Sebagai contoh, suatu tulisan tentu memiliki penulis. Dengan pemahaman yang sama, alam raya juga memiliki pencipta, yaitu Allah. Cara berpikir tersebut membantu manusia menggunakan akal sehat untuk memahami berbagai hal yang terdapat di sekitarnya.
Keterbatasan mata manusia juga perlu diperhatikan. Mata hanya mampu melihat makhluk atau materi yang ada di dunia dan memiliki batas kemampuan dalam menangkap sesuatu.
Sementara itu, Allah merupakan Sang Khaliq atau Pencipta yang wujud-Nya tidak serupa dengan makhluk ciptaan-Nya. Oleh karena itu, Allah tidak dapat disamakan dengan sesuatu yang dapat dilihat oleh mata manusia.
Selain itu, kehadiran Allah dapat dirasakan melalui doa dan perasaan hati. Manusia dapat merasakan ketenangan batin, cinta, serta pengalaman ketika doa-doa dikabulkan.
Hal tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang dapat menguatkan keyakinan terhadap kehadiran Allah dalam kehidupan.
Al-Qur'an juga menjelaskan sifat-sifat kebesaran Allah dan memberikan pedoman hidup bagi manusia. Melalui berbagai hal tersebut, keberadaan Allah dapat diyakini meskipun tidak dapat dilihat secara langsung oleh mata manusia. (ARIF)
Baca juga: Capstone Project adalah Apa dalam Perkuliahan? Ini Penjelasannya