Konten dari Pengguna

Kisah Joko Tingkir, Legenda Jawa yang Terus Dikenang dari Generasi ke Generasi

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kisah Joko Tingkir, Foto:Unsplash/Susan Q Yin
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kisah Joko Tingkir, Foto:Unsplash/Susan Q Yin

Kisah Joko Tingkir merupakan warisan cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat Jawa.

Nama tokoh ini kerap muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari cerita yang dituturkan secara lisan, naskah kuno, hingga pertunjukan seni tradisional yang masih lestari sampai sekarang.

Menariknya, meskipun telah melewati perjalanan waktu selama berabad-abad, sosok Joko Tingkir tetap mampu memancing rasa penasaran banyak orang dari berbagai kalangan.

Kisah Joko Tingkir, Legenda yang Tak Pernah Pudar dalam Ingatan Masyarakat

Ilustrasi Kisah Joko Tingkir, Foto:Unsplash/Kimberly Farmer

Menurut informasi dari visitjawatengah.jatengprov.go.id, kisah Joko Tingkir berawal dari perjalanan Ki Ageng Butuh atau Raden Kebo Kenanga yang menjabat sebagai Adipati Pengging II di wilayah Boyolali hingga Salatiga.

Setelah menggantikan Ki Ageng Handayaningrat, ia diperintahkan menghadap Kerajaan Demak karena Pengging merupakan daerah bawahan Kasultanan Demak setelah runtuhnya Majapahit.

Namun, Ki Ageng Butuh memilih tidak memenuhi panggilan tersebut. Demi menghindari pertikaian yang dapat merugikan rakyat, ia bersama istrinya meninggalkan Pengging dan menetap di wilayah sebelah timur.

Jaka Tingkir yang bernama kecil Mas Karebet merupakan putra Ki Ageng Kebo Kenanga dan Roro Alit, putri Sunan Lawu yang masih memiliki garis keturunan Prabu Brawijaya V.

Kisah Joko Tingkir dikenal sebagai bagian dari sejarah yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Perjalanan hidupnya tidak hanya menjadi bagian dari sejarah Sragen, tetapi juga Jawa Tengah dan Pulau Jawa.

Perjalanan itu berlangsung pada masa Kerajaan Demak, mulai dari pemerintahan Raden Patah, Patiunus, hingga Sultan Trenggono.

Ketika beranjak dewasa, Jaka Tingkir diperintahkan mengabdi ke Demak. Bersama tiga sahabatnya, ia menempuh perjalanan melalui Bengawan Solo menggunakan gethek atau rakit.

Di sana, ia berhasil menaklukkan kerbau yang mengamuk sehingga mendapat kepercayaan Sultan Trenggono. Jaka Tingkir kemudian dinikahkan dengan Ratu Mas Cempaka dan memperoleh gelar Adipati Hadiwijaya.

Setelah Sultan Trenggono wafat, persaingan memperebutkan takhta Demak semakin memanas. Meski menghadapi kerabat sendiri, Adipati Hadiwijaya memilih menghindari pertumpahan darah.

Sikap tersebut sesuai dengan falsafah Jawa, "Wani ngalah iku luhur wekasane, menang tanpa ngasorake," yang mengajarkan kemuliaan dalam mengalah tanpa merendahkan pihak lain.

Atas kebijaksanaannya, Adipati Hadiwijaya akhirnya diangkat menjadi Sultan Hadiwijaya atau Raja Demak IV. Demi menjaga keamanan rakyat, pusat pemerintahan dipindahkan ke Pajang sehingga beliau dikenal sebagai Raja Pajang I.

Selama memimpin sekitar 40 tahun, Kerajaan Pajang merangkul berbagai kalangan tanpa membedakan keyakinan, suku, maupun kasta.

Pada masa tuanya, Sultan Hadiwijaya memilih menghabiskan waktu untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta di Dusun Butuh, tepi Bengawan Solo. Setelah wafat, beliau dimakamkan bersama kedua orang tuanya di kompleks Makam Butuh.

Di kawasan yang sama terdapat Masjid Butuh yang diperkirakan telah berdiri sejak masa Kerajaan Demak dan telah beberapa kali dipugar sebelum akhirnya ditetapkan sebagai cagar budaya Kabupaten Sragen pada 2018.

Hingga kini, Makam dan Masjid Butuh masih menjadi tujuan peziarah sekaligus pengingat akan jejak sejarah Jaka Tingkir. (DANI)

Baca juga: Asal Usul Rendang, Kuliner Legendaris yang Mendunia