Konten dari Pengguna

Kisah Masjid Menara Kudus yang Wajib Diketahui

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kisah Masjid Menara Kudus. Foto: Unsplash/David Rodrigo
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kisah Masjid Menara Kudus. Foto: Unsplash/David Rodrigo

Kisah Masjid Menara Kudus menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan sejarah penyebaran Islam di Pulau Jawa.

Bangunan bersejarah yang berada di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, ini tidak hanya dikenal sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi bukti bahwa penyebaran ajaran Islam pernah berlangsung melalui pendekatan yang menghargai budaya yang telah berkembang di tengah masyarakat.

Masjid Menara Kudus hingga kini tetap dipandang sebagai salah satu peninggalan bersejarah yang memiliki nilai budaya sekaligus nilai keagamaan yang sangat kuat.

Kisah Masjid Menara Kudus dan Penyebaran Islam di Pulau Jawa

Ilustrasi Kisah Masjid Menara Kudus. Foto: Unsplash/Nanbo Wang

Kisah Masjid Menara Kudus berawal dari perjuangan Sunan Kudus atau Ja'far Shadiq, salah seorang anggota Wali Songo yang memiliki peran besar dalam menyebarkan Islam di wilayah Jawa.

Dikutip dari laman tourism.kuduskab.go.id, masjid ini didirikan sekitar tahun 1549 M atau 956 Hijriah. Nama resminya adalah Masjid Al-Aqsa atau Masjid Al-Manar, sedangkan masyarakat lebih mengenalnya sebagai Masjid Menara Kudus karena keberadaan menara bata merah yang berdiri kokoh di dalam kompleks masjid.

Menara tersebut memiliki bentuk yang menyerupai bangunan candi peninggalan Majapahit dengan susunan bata merah tanpa plester sebagai ciri khas arsitektur pada masa itu. Bentuk bangunan tersebut dipertahankan sebagai bagian dari cara Sunan Kudus menyampaikan dakwah secara bijaksana.

Dengan tetap menghormati budaya yang telah dikenal masyarakat, ajaran Islam dapat diterima secara damai tanpa menghilangkan identitas bangunan sebagai tempat ibadah.

Selain menara, kompleks masjid juga dilengkapi gerbang bercorak candi bentar yang semakin memperlihatkan adanya perpaduan unsur budaya lokal dengan perkembangan Islam di Nusantara.

Di balik keunikan arsitekturnya, Masjid Menara Kudus juga menyimpan kisah yang menggambarkan sikap toleransi Sunan Kudus terhadap masyarakat yang memeluk agama lain.

Dalam berbagai catatan sejarah dan tradisi yang berkembang di Kudus, Sunan Kudus diceritakan tidak menganjurkan penyembelihan sapi sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat Hindu yang memuliakan hewan tersebut.

Sebagai gantinya, masyarakat menggunakan kerbau untuk keperluan kurban maupun konsumsi. Sikap yang penuh penghormatan tersebut memperlihatkan bahwa penyebaran Islam dilakukan dengan mengedepankan kebijaksanaan serta saling menghargai, sehingga hubungan antarmasyarakat tetap terjalin dengan baik. Hingga sekarang, tradisi itu masih dikenal sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Kudus.

Saat ini, Masjid Menara Kudus telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya nasional sekaligus menjadi tujuan wisata religi yang banyak dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Keberadaan makam Sunan Kudus di dalam kompleks masjid semakin memperkuat nilai sejarah tempat ini.

Kisah Masjid Menara Kudus mengingatkan bahwa keberhasilan menyebarkan ajaran agama tidak hanya bergantung pada penyampaian nilai-nilai keagamaan, melainkan juga pada sikap bijaksana, rasa saling menghormati, serta kemampuan menjaga keharmonisan di tengah keberagaman budaya yang telah hidup sejak lama.

Karena itulah, Masjid Menara Kudus tetap dikenang sebagai salah satu warisan sejarah yang memiliki makna penting bagi perkembangan Islam di Indonesia.(Arif)

Baca juga: Kisah Arya Penangsang Adipati Jipang yang Ambisius