Konten dari Pengguna

Legenda Bau Nyale dan Nilai Kehidupan di Balik Kisah Putri Mandalika

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi  Legenda Bau Nyale . Foto: Unsplash/Joel Muniz
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Legenda Bau Nyale . Foto: Unsplash/Joel Muniz

Pulau Lombok dikenal memiliki kekayaan alam dan budaya yang saling melengkapi. Legenda Bau Nyale menjadi salah satu kisah yang paling melekat dalam kehidupan masyarakat Suku Sasak karena berkaitan dengan pengorbanan Putri Mandalika.

Kisah tersebut terus dikenang melalui tradisi menangkap nyale yang dilaksanakan setiap tahun di pesisir selatan Lombok. Lebih dari sekadar cerita rakyat, legenda ini menjadi bagian dari warisan budaya yang mengandung pesan tentang persatuan, kebijaksanaan, dan kepedulian terhadap sesama.

Cerita Putri Mandalika tidak hanya dipelajari sebagai bagian dari sejarah lisan, tetapi juga terus dilestarikan sebagai identitas budaya masyarakat Lombok.

Legenda Bau Nyale, Pengorbanan Putri Mandalika untuk Rakyat

Ilustrasi Legenda Bau Nyale . Foto: Unsplash/Melanie Deziel

Legenda Bau Nyale mengisahkan Putri Mandalika, seorang putri yang terkenal karena kecantikan dan kebijaksanaannya. Mengutip dari laman lomboksumbawatourism.ntbprov.go.id, banyak pangeran datang untuk meminangnya sehingga persaingan di antara mereka dikhawatirkan dapat memicu peperangan dan perpecahan di Kerajaan Lombok.

Demi menghindari pertumpahan darah, Putri Mandalika memutuskan mengorbankan dirinya dengan menceburkan diri ke laut dari Pantai Seger.

Setelah peristiwa tersebut, masyarakat menyaksikan kemunculan cacing laut berwarna-warni yang disebut nyale dan dipercaya sebagai jelmaan sang putri.

Peristiwa inilah yang kemudian melahirkan tradisi Bau Nyale, yaitu kegiatan menangkap nyale yang biasanya dilaksanakan setiap bulan Februari atau Maret sesuai kalender Sasak.

Dalam bahasa Sasak, "bau" berarti menangkap, sedangkan "nyale" adalah sejenis cacing laut. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap pengorbanan Putri Mandalika.

Masyarakat meyakini bahwa kemunculan nyale membawa harapan baik, kemakmuran, dan keberuntungan. Selain itu, kisah ini mengandung nilai kehidupan yang mengajarkan pentingnya mengutamakan kepentingan bersama, menjaga persatuan, serta menyelesaikan persoalan dengan penuh kebijaksanaan.

Hingga saat ini, Festival Bau Nyale terus diselenggarakan sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus upaya memperkenalkan tradisi Lombok kepada masyarakat luas.

Legenda Bau Nyale tetap menjadi warisan budaya yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Lombok. Melalui kisah Putri Mandalika, nilai pengorbanan, persatuan, dan kebijaksanaan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga tradisi Bau Nyale tetap terjaga sebagai bagian penting dari identitas budaya daerah.(Arif)

Baca juga: Legenda Candi Sewu dalam Cerita Rakyat Jawa Tengah