Konten dari Pengguna

Legenda Bujang Beji, Cerita Rakyat dari Kalimantan Barat

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi legenda Bujang Beji.Foto: Yue su / Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi legenda Bujang Beji.Foto: Yue su / Unsplash

Kalimantan Barat memiliki cerita rakyat legenda Bujang Beji yang mengajarkan tentang rasa syukur. Kisahnya berfokus pada tokoh Bujang Beji yang memiliki beberapa sifat buruk, mulai dari serakah hingga iri dengki.

Sifat buruk itu bahkan mengantarkannya menuju ajalnya. Oleh karena itu, legenda ini menarik untuk dibaca karena menyimpan pesan moral tentang kehidupan.

Cerita Rakyat Legenda Bujang Beji, Pemimpin Keturunan Dewa

Ilustrasi legenda Bujang Beji.Foto: Clayton Chase / Unsplash

Mengutip buku Koleksi Terbaik Cerita Rakyat Nusantara, Putri Khumairah (2017:96), pada zaman dahulu di Sintang, Kalimantan Barat hidup dua pemimpin dari keturunan dewa yang kesaktiannya sangat tinggi.

Keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang. Pemimpin pertama, yakni Sebeji atau lebih dikenal Bujang Beji memiliki sifat pendengki, suka merusak, dan serakah, sehingga tidak disukai masyarakat sekitar.

Pemimpin kedua bernama Tumenggung Marubai. Ia memiliki sifat rendah hati, berhati mulia, dan suka menolong.

Mengingat matapencaharian utama keduanya sama yakni menangkap ikan, mereka berbagi wilayah.

Bujang Beji bersama pengikutnya menguasai Sungai Simpang Kapuas, sementara Tumenggung Marubai menguasai Sungai Simpang Melawai.

Pada suatu hari, Bujang Beji mendapati Tumenggung Marubai mendapat banyak ikan. Melihat hal itu, ia menjadi iri kemudian pergi menangkap ikan dengan meracuni ikan menggunakan pohon tuba.

Pada awalnya, ia selalu mendapat banyak ikan. Namun, lambat laun ikan di sungai Simpang Kapuas berkurang drastis karena ikan-ikan kecil juga ikut mati ketika diracun.

Kondisi itu membuatnya kebingungan, terlebih melihat Tumenggung Marubai terus mendapat banyak ikan karena menggunakan bubu.

Disebabkan rasa irinya semakin memuncak, Bujang Beji mencari cara agar ikan di sungai Simpang Melawai habis.

Setelah berpikir panjang, akhirnya ia memutuskan untuk menutup aliran air menuju sungai Simpang Melawai dengan puncak Bukit Batu di Nanga Silat.

Sayangnya rencananya gagal karena saat di perjalanan, kakinya menginjak duri beracun setelah mendengar tawa para dewi yang menertawakannya.

Bujang Beji yang marah kemudian berusaha naik ke kahyangan menggunakan pohon kumpang bambu untuk membinasakan dewi-dewi tersebut.

Sebelum menjalankan rencananya, ia melakukan upacara bedarak begelak. Tujuannya adalah agar seluruh binatang dan roh jahat di sekitarnya tidak menghalalkan niatnya itu.

Hanya saja, ada dua binatang yang lupa tidak diberi sesajen, yakni kawanan sampok (rayap) dan beruang.

Mereka kemudian berunding untuk menggagalkan rencana Bujang Beji. Akhirnya disepakati bahwa mereka akan menggerogoti akar pohon kumpang bambu yang dinaikinya.

Sesuai rencana, rombongan sampok dan beruang berhasil merobohkan pohon saat Bujang Beji ada di atasnya. Seketika itu, pohon tersebut ambruk dan membuat tubuhnya jatuh terhempas.

Konon, tubuh Bujang Beji yang sudah tidak bernyawa dipotong, kemudian dijadikan jimat oleh masyarakat sekitar.

Berdasarkan legenda Bujang Beji, bisa diambil pelajaran bahwa kita tidak boleh melakukan hal buruk kepada orang lain karena efek buruknya akan berimbas ke diri sendiri. (NOV)

Baca juga: Legenda Si Pahit Lidah dari Sumatera Selatan Berkisah tentang Apa? Ini Ceritanya