Legenda Si Pahit Lidah dari Sumatera Selatan Berkisah tentang Apa? Ini Ceritanya
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Legenda Si Pahit Lidah dari Sumatera Selatan berkisah tentang bangsawan bernama Serunting yang mempunyai sifat iri dan kesaktian yang langka.
Sifat iri itulah yang mengantarkannya mendapatkan kesaktian berupa pahit lidah. Akibatnya setiap perkataan buruknya kepada orang lain akan menjadi kenyataan.
Kisah Legenda Si Pahit Lidah dari Sumatera Selatan
Kisah legenda Si Pahit Lidah dari Sumatera Selatan ini berawal dari Serunting yang merasa iri dengan kebun jamur emas Aria Tebing, adik iparnya sendiri.
Pada suatu hari Serunting mengajak duel Aria tebing untuk membuktikan siapa yang hebat. Namun akhirnya Serunting kalah dan karena merasa dicurangi serta merasa marah, ia pergi dari desanya.
Ketika sampai di satu gunung ia bertemu dengan orang sakti dan akhirnya Serunting mendapatkan kesaktian berupa terwujudnya segala yang ia ucapkan.
Setelah mendapatkan kesaktian tersebut ia ingin kembali ke desanya dan ingin balas dendam atas kekalahannya dengan Aria Tebing.
Sesampainya di sebuah tempat ia melihat banyak pohon tebu dan ingin menjajal ilmu kesaktiannya untuk mengubah pohon tebu menjadi batu.
Maka pohon tebu tersebut berubah menjadi batu seperti apa yang ia ucapkan. Kemudian saat bertemu warga di dekat Sungai, ia juga mengutuk mereka menjadi batu.
Konon Serunting pada akhirnya berubah menjadi baik dan menyadari kekeliruannya. Ia akhirnya menggunakan kesaktiannya untuk berbuat kebaikan atau menolong orang.
Dijelaskan dalam buku Kumpulan cerita rakyat Nusantara, Sumbi Sambangsari, (2008:42), setelah melihat hutan gundul Serunting merasa kasihan lalu mengubahnya menjadi hutan yang hijau.
Ia juga bertemu dengan sepasang suami istri yang sudah tua renta dan tidak mempunyai anak. Lalu Serunting membantu mereka memiliki bayi. Ia merasa senang setelah melihat orang lain bahagia.
Semenjak kejadian tersebut ia ingin terus menggunakan kesaktiannya untuk berbuat kebaikan dan tidak lagi mengutuk orang-orang.
Hingga saat ini tidak jarang ada masyarakat Sumatera Selatan yang percaya bahwa batuan tidak beraturan atau situs megalitikum di dekat sungai adalah hasil kutukan dari Si Pahit Lidah.
Legenda Si Pahit Lidah dari Sumatera Selatan juga memiliki pesan moral yang bisa diceritakan pada anak-anak jaman sekarang.
Salah satu pesan moral cerita rakyat ini yakni agar manusia menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk melakukan kebaikan bagi orang lain bukan malah keburukan yang merugikan.
Selain itu hendaknya manusia juga harus berhati-hati dalam berucap karena ucapan yang buruk bisa menjadi kenyataan. (NOV)
Baca juga: Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir Sumatera Utara