Legenda Gunung Lawu yang Berkembang di Masyarakat Jawa
Membagikan informasi dari berbagai topik.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kisah legenda Gunung Lawu yang diceritakan oleh masyarakat secara turun temurun menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Apalagi konon legenda ini juga berhubungan dengan sejarah raja-raja.
Gunung api yang masih berstatus istirahat tersebut terletak di antara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Magetan, dan Kabupaten Ngawi.
Legenda Gunung Lawu , Kesakralan Sang Prabu
Legenda Gunung Lawu masih berkaitan dengan Keraton Yogyakarta. Gunung dengan ketinggian 3.265 mdpl ini diyakini sebagai tujuan terakhir Raja Majapahit, Brawijaya V.
Beliau merupakan orang yang berperan penting dalam pendirian Keraton Yogyakarta.
Pada rangkaian peringatan jumenengan dalem atau penobatan sultan, diadakan juga upacara labuhan di petilasan Gunung Lawu.
Kisah kesakralan Gunung Lawu bermula dari Prabu Brawijaya V yang berhasil dikalahkan oleh Raja Girindrawardhana dari Kerajaan Kediri, kemudian memutuskan bertapa di Gunung Lawu.
Mengutip buku Jejak Kisah Petualangan Nusantara, Theresia Vina Anjani, Anastasia Anggi Fernanda, (2020:11), Gunung Lawu memiliki tiga puncak.
Nama puncaknya yakni puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Puncak yang paling tinggi adalah Hargo Dumilah.
Masyarakat percaya di puncak Lawu merupakan tempat sang prabu melakukan moksa yakni berubah wujud ke alam keabadian dan mendapatkan gelar Sunan Lawu.
Sementara itu, dua abdi setianya diyakini berpencar ke arah berbeda sambil bersumpah terhadap masa depan tanah Jawa.
Berdasarkan legendanya, berkembang juga berbagai mitos di kalangan pendaki, salah satunya berkaitan dengan burung jalak lawu.
Konon, burung tersebut adalah jelmaan dari Kyai Jalak, pengikut setia Prabu Brawijaya V. Banyak dari mereka yang meyakini bahwa burung jalak lawu akan menjaga dan menuntun pendaki dengan niat baik.
Sementara bagi pendaki dengan tujuan buruk serta bermulut kotor, maka akan disesatkan.
Bukan hanya itu, tersebar juga beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar para pendaki, misalnya larangan mengenakan pakaian berwarna hijau lumut motif atau bermotif gadung melati.
Satu lagi pantangan yang masih dipercaya hingga kini adalah masyarakat dari Cepu dan sekitarnya dilarang mendaki Gunung Lawu. Jika pantangan itu dilanggar, dipercaya akan terjadi hal buruk.
Kepercayaan masyarakat sekitar terhadap legenda Gunung Lawu hingga kini masih dijaga dengan baik. Diharapkan, para pendaki juga mematuhi segala aturan tertulis maupun tidak tertulis yang ada. (NOV)
Baca juga: Legenda Gunung Bromo yang Jarang Diketahui