Konten dari Pengguna

Legenda I La Galigo dari Kerajaan Luwu Sulawesi Selatan

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi legenda I La Galigo.Foto: Aaron Burden / Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi legenda I La Galigo.Foto: Aaron Burden / Unsplash

Jika India memiliki kisah legenda Mahabarata, Suku Bugis memiliki legenda I La Galigo yang tidak kalah menariknya. Kedua karya tersebut dikenal memiliki cerita yang sarat nilai budaya.

Masyarakat Sulawesi Selatan mengetahui cerita I La Galigo melalui tradisi nyanyian sakral (pasureq). Kisahnya petualangan tokoh utama bernama Sawérigading dan putranya.

Legenda I La Galigo dari Luwu yang Populer Hingga Mancanegara

Ilustrasi legenda I La Galigo. Foto: Ugur Akdemir / Unsplash

Mengutip laman mow.anri.go.id, masyarakat Bugis lebih mengenal legenda I La Galigo dengan sebutan Sureq Galigo.

Karya ini ditulis menggunakan bahasa dan aksara Bugis yang kaya akan makna dan nilai budaya.

Isinya tentang kepercayaan kosmologis masyarakat Bugis kuno yang membagi alam semesta menjadi tiga bagian Botting Langik (Dunia Atas), Ale Lino (Dunia Tengah), Pertiwi (Dunia Bawah).

Dahulu kala, dikisahkan bahwa Batara Guru yaitu dewa dari langit turun ke dunia tengah (bumi) atas kesepakatan dari penguasa dunia atas dan bawah.

Mereka melakukannya karena merasa dunia tengah masih sangat kosong. Batara Guru diyakini sebagai manusia pertama di bumi yang turun di daerah Luwu, Sulawesi Selatan.

Inti kisah dari I La Galigo berfokus pada putra Batara Lattu' bernama Sawerigading yaitu cucu dari Batara Guru. Saat usianya masih kecil, ia diramalkan akan menjadi sosok yang berilmu kanuragan tinggi.

Hanya saja kesaktiannya berpotensi menyebabkan malapetaka jika bertemu dengan saudara perempuannya, We Tenriabeng.

Takut ramalan tersebut benar-benar terjadi, Sawerigading kemudian diasingkan. Setelah waktu berlalu, tidak disangka-sangka ternyata takdir malah mempertemukan mereka.

Pertemuan keduanya terjadi ketika Sawerigading kembali ke Luwu dan tidak sengaja melihat We Tenriabeng.

Sawerigading yang terpesona akan kecantikan saudaranya itu kemudian berniat menikahinya.

Keinginan tersebut ditolak mentah-mentah oleh We Tenriabeng dengan memberi alasan bahwa sebenarnya mereka adalah saudara.

Bahkan mereka juga memiliki saudara kembar lain yang berada di Cina kuno bernama We Nyili Timo.

Sawerigading kemudian bertekad untuk menemukan We Nyili Timo dengan berlayar ke daratan Cina. Singkat cerita akhirnya mereka bertemu dan menikah hingga memiliki anak bernama La Galigo.

Legenda I La Galigo ditulis sebanyak 6000 halaman folio. Cerita ini bahkan dianggap sebagai salah satu karya sastra terpanjang di dunia melebihi Ramayana dan Mahabharata. (NOV)

Baca juga: Legenda Hainuwele, Cerita Gadis Kelapa dan Berbagai Mitosnya