Konten dari Pengguna

Makna Tradisi Tedak Siten dalam Budaya Jawa dan Cara Pelaksanaannya

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Makna Tradisi Tedak Siten Dalam Budaya Jawa. Foto: usnplash/Omar Lopez
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Makna Tradisi Tedak Siten Dalam Budaya Jawa. Foto: usnplash/Omar Lopez

Tradisi Tedak Siten menjadi salah satu warisan budaya Jawa. Makna tradisi tedak siten dalam budaya Jawa tidak hanya tercermin dari rangkaian prosesi yang dijalankan, tetapi juga dari cara masyarakat menjaga tradisi tersebut sebagai bagian dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Di tengah kehidupan yang terus berkembang, tedak siten tetap hadir dalam momen penting sebuah keluarga dan menjadi pengingat bahwa setiap tradisi lahir dari nilai-nilai yang dijaga selama bertahun-tahun.

Keberadaannya tidak sekadar mempertahankan adat istiadat, melainkan juga memperlihatkan bagaimana budaya Jawa terus hidup dan dikenalkan kepada generasi berikutnya melalui kebiasaan yang tetap dipelihara hingga sekarang.

Makna Tradisi Tedak Siten dalam Budaya Jawa untuk Masa Depan Anak

Ilustrasi Makna Tradisi Tedak Siten Dalam Budaya Jawa. Foto: usnplash/Kevin Watza

Makna tradisi Tedak Siten dalam budaya Jawa erat kaitannya dengan rasa syukur, doa, serta harapan orang tua terhadap masa depan anak.

Dikutip dari laman kebudayaan.jogjakota.go.id, tedak siten berasal dari kata tedhak yang berarti turun atau menapakkan kaki dan siten atau siti yang berarti tanah.

Tradisi ini merupakan upacara saat anak pertama kali menginjak tanah, yang umumnya dilaksanakan ketika anak berusia tujuh lapan dalam penanggalan Jawa atau sekitar delapan bulan dalam kalender Masehi.

Pada usia tersebut, anak biasanya mulai belajar berjalan sehingga prosesi ini menjadi simbol awal memasuki perjalanan hidup.

Selain sebagai bentuk pelestarian budaya, setiap tahapan Tedak Siten mengandung filosofi tentang bimbingan orang tua dalam mendampingi anak menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Prosesi Tedak Siten diawali dengan membersihkan kaki anak sebagai lambang kesucian sebelum memulai perjalanan hidup. Setelah itu, anak dipandu berjalan melewati tujuh jadah berwarna yang melambangkan berbagai fase kehidupan yang akan dihadapi.

Berikutnya, anak menaiki tangga yang terbuat dari tebu sebagai simbol tekad, semangat, dan keyakinan dalam meraih cita-cita. Tahap selanjutnya adalah memasukkan anak ke dalam kurungan yang telah diisi berbagai benda, seperti buku, alat tulis, mainan, perhiasan, atau perlengkapan lain.

Benda pertama yang dipilih anak dipercaya menjadi simbol minat atau harapan terhadap masa depannya. Setelah itu, anak dimandikan menggunakan air bunga sebagai doa agar tumbuh menjadi pribadi yang membawa nama baik keluarga.

Prosesi ditutup dengan menyebarkan udhik-udhik berupa uang logam yang dicampur bunga kepada para tamu sebagai simbol berbagi rezeki dan kepedulian kepada sesama.

Meskipun tata cara pelaksanaannya dapat berbeda di setiap daerah, makna tradisi Tedak Siten dalam budaya Jawa tetap sama, yakni ungkapan syukur kepada Tuhan sekaligus harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.(Arif)

Baca juga: Kenapa Rumah Adat Toraja Berbentuk Perahu? Cek Makna di Baliknya