Konten dari Pengguna

Makna Tradisi Tedak Siten dalam Budaya Jawa yang Wajib Diketahui

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Makna tradisi tedak siten. Foto: Unsplash/Jonathan Borba
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Makna tradisi tedak siten. Foto: Unsplash/Jonathan Borba

Makna tradisi tedak siten dalam budaya Jawa berkaitan dengan salah satu tahapan penting dalam kehidupan seorang anak. Upacara adat ini dilakukan ketika anak mulai belajar berjalan dan pertama kali menapakkan kaki di tanah.

Bagi masyarakat Jawa, momen tersebut tidak sekadar menjadi tanda pertumbuhan anak, tetapi juga menjadi kesempatan bagi keluarga untuk memanjatkan doa dan menyampaikan harapan untuk kehidupan anak di masa depan.

Tedak Siten memiliki sejumlah rangkaian prosesi yang masing-masing mengandung simbol dan nilai tertentu. Karena itu, tradisi ini masih dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya Jawa yang sarat dengan makna kehidupan.

Makna Tradisi Tedak Siten dalam Budaya Jawa

Ilustrasi Makna tradisi tedak siten. Foto: Unsplash/Nihal Karkala

Makna tradisi tedak siten terlihat dari rangkaian upacaranya yang menggambarkan harapan orang tua terhadap perjalanan hidup anak. Dikutip dari laman kebudayaan.jogjakota.go.id, tedhak siten berasal dari kata tedhak yang berarti turun atau menapakkan kaki dan siten atau siti yang berarti tanah.

Upacara ini dilaksanakan ketika anak berusia 7 lapan dalam kalender Jawa atau sekitar 8 bulan kalender Masehi, saat anak mulai belajar berjalan. Setiap tahapan dalam Tedak Siten memiliki simbol yang berkaitan dengan kehidupan, doa, serta harapan agar anak tumbuh dengan baik.

Salah satu rangkaian Tedak Siten adalah menginjak tujuh buah jadah dengan warna yang berbeda. Jadah tersebut berwarna merah, putih, hijau, kuning, biru, merah jambu, dan ungu.

Angka tujuh atau pitu memiliki kaitan dengan harapan memperoleh pitulungan, yang berarti pertolongan. Warna pada setiap jadah juga mempunyai makna masing-masing.

Merah melambangkan keberanian, putih melambangkan kesucian, hijau berkaitan dengan kesuburan, kuning menggambarkan kekuatan lahir dan batin, biru bermakna ketenangan jiwa, merah jambu melambangkan kasih sayang, sedangkan ungu memiliki makna kesempurnaan.

Prosesi selanjutnya adalah menaiki tangga yang terbuat dari tebu wulung. Tebu dikaitkan dengan ungkapan antebing kalbu, yang bermakna keteguhan hati. Tahapan ini menjadi simbol harapan agar anak mempunyai tekad yang kuat ketika menjalani kehidupannya.

Anak kemudian dimasukkan ke dalam sebuah kurungan yang telah diisi berbagai benda, seperti buku, mainan, atau perlengkapan lainnya. Benda yang dipilih anak dipercaya dapat menggambarkan minat atau bidang yang mungkin ditekuni ketika dewasa. Namun, pemaknaan tersebut merupakan bagian dari simbol dalam tradisi, bukan penentu masa depan anak.

Tedak Siten juga memiliki prosesi memandikan anak dengan air yang diberi bunga. Tahapan tersebut mengandung doa agar anak kelak dapat membawa nama baik dan mengharumkan nama keluarga. Setelah itu, terdapat prosesi penyebaran udhik-udhik, yaitu uang logam yang dicampur dengan bunga.

Uang tersebut disebarkan kepada orang-orang yang hadir sebagai simbol harapan agar anak kelak memperoleh rezeki dan memiliki kemauan untuk berbagi kepada sesama.

Tradisi tedak siten pada akhirnya menjadi bentuk ungkapan syukur sekaligus doa keluarga ketika anak memasuki tahap awal dalam kehidupannya.

Berbagai perlengkapan dan prosesi yang digunakan menunjukkan bahwa masyarakat Jawa menyampaikan nilai kehidupan melalui simbol-simbol yang dekat dengan keseharian. Tradisi ini juga menjadi salah satu cara untuk mengenalkan warisan budaya kepada generasi berikutnya.(Yolan)

Baca juga: Kenapa Batik Parang Tidak Boleh Dipakai Sembarang Orang? Ini Sejarahnya