Konten dari Pengguna

Mengapa Masyarakat Bali Membuat Canang Sari Setiap Hari? Ini Alasannya

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mengapa masyarakat Bali membuat canang sari setiap hari?. Foto: Unsplash/Zack Zaidi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mengapa masyarakat Bali membuat canang sari setiap hari?. Foto: Unsplash/Zack Zaidi

Mengapa masyarakat Bali membuat canang sari setiap hari? Canang sari, salah satu bentuk persembahan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Hindu Bali.

Bentuknya sederhana dengan rangkaian bunga dan perlengkapan lainnya, tetapi kehadirannya begitu melekat dalam keseharian.

Canang sari juga dapat dijumpai dalam berbagai kegiatan keagamaan dan upacara adat di Bali, sehingga keberadaannya menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat setempat.

Alasan Mengapa Masyarakat Bali Membuat Canang Sari Setiap Hari

Ilustrasi Mengapa masyarakat Bali membuat canang sari setiap hari?. Foto: Unsplash/Sérgio André

Mengapa masyarakat Bali membuat canang sari setiap hari? Dikutip dari laman disbudpar.bulelengkab.go.id, canang sari merupakan persembahan yang digunakan dalam persembahyangan sehari-hari oleh umat Hindu Bali.

Dalam setiap banten atau yadnya, canang sari disebut sebagai bagian yang terkecil, tetapi menjadi inti. Hal tersebut menunjukkan bahwa meskipun bentuknya sederhana, canang sari memiliki kedudukan penting dalam kegiatan keagamaan.

Canang sari juga memiliki makna sebagai simbol bahasa Weda untuk memohon kehadapan Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa, khususnya memohon kekuatan Widya atau pengetahuan bagi Bhuwana Alit maupun Bhuwana Agung.

Secara etimologis, kata “canang” berasal dari “can” yang berarti indah dan “nang” yang berarti tujuan atau maksud dalam bahasa Kawi atau Jawa Kuno, sedangkan “sari” bermakna inti atau sumber.

Makna tersebut membuat canang sari tidak sekadar dipandang sebagai rangkaian bunga dan perlengkapan persembahan. Di dalamnya terdapat simbol-simbol yang mencerminkan ketulusan dan hubungan spiritual.

Misalnya, alas canang yang disebut ceper berbentuk segi empat menjadi simbol kekuatan Ardha Candra atau bulan. Sementara itu, porosan yang diletakkan di atas ceper mengandung makna bahwa persembahan hendaknya dilandasi hati yang penuh kasih dan ketulusan kepada Sang Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya.

Selain itu, canang sari dilengkapi dengan unsur seperti tebu, pisang, dan jaja atau kue yang memiliki makna simbolis tersendiri.

Karena memiliki fungsi dan makna tersebut, canang sari terus hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Hindu Bali sebagai bentuk persembahan sekaligus pengingat untuk menjaga ketulusan dalam menjalankan kehidupan spiritual.(Arif)

Baca juga: Filosofi Kain Gringsing Khas Bali dan Perannya dalam Upacara Adat