Konten dari Pengguna

Pesan Moral Cerita Rakyat Putri Serindang Bulan dalam Budaya Bengkulu

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pesan moral cerita rakyat putri Serindang Bulan.Foto oleh Christina Miller / Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pesan moral cerita rakyat putri Serindang Bulan.Foto oleh Christina Miller / Unsplash

Memahami pesan moral cerita rakyat putri Serindang Bulan bisa dimulai dengan membaca kisahnya. Cerita rakyat ini berkisah tentang seorang putri yang memiliki keanehan pada tubuhnya.

Karena kondisi itu, sang putri harus menghadapi kenyataan pahit mengenai sang kakak yang berkeinginan untuk membunuhnya meski ia memiliki paras sangat cantik dan menawan.

Pesan Moral Cerita Rakyat Putri Serindang Bulan dan Kisah Lengkapnya

Ilustrasi pesan moral cerita rakyat putri Serindang Bulan.Foto:Jordyn St. John / Unsplash

Sebelum mencari tahu pesan moral cerita rakyat putri Serindang Bulan, akan lebih menarik jika mengetahui ringkasan kisahnya terlebih dahulu.

Mengutip laman balaibahasabengkulu.kemendikdasmen.go.id, dahulu Tanah Rejang masih disebut dengan nama Renah Sekalawi, Petulai Tubei dipimpin oleh raja bijaksana bernama Raja Mawang.

Raja tersebut memiliki tujuh orang anak, dengan perincian enam putra dan satu orang putri. Namanya yaitu Ki Geto, Ki Tago, Ki Ain, Ki Jenain, Ki Getting, Ki Karang Nio, dan Putri Serindang Bulan.

Sebagai putri satu-satunya, Serindang Bulan dikenal sangat cantik, sampai-sampai memikat para bangsawan hingga pangeran dari segala penjuru.

Anehnya, setiap ada yang melamarnya, seketika tubuhnya akan dipenuhi kudis. Namun, setelah lamaran dibatalkan, kudis di tubuhnya menghilang secara ajaib dan ia kembali cantik.

Keenam kakaknya yang merasa malu dengan kondisi sang adik kemudian mengadakan perundingan. Dari perundingan itu, diputuskan bahwa Putri Serindang

Bulan akan dibunuh, meski salah satu kakaknya yakni Ki Karang Nio tidak setuju. Berusaha mencari celah untuk menyelamatkan sang adik, Ki Karang Nio mengajukan diri untuk menjadi eksekutor.

Kelima kakaknya pun setuju, tetapi dengan syarat bahwa mereka harus dibawakan satu tabung darah sang putri. Keesokan harinya, Ki Karang Nio mengajak Putri Serindang Bulan ke hutan.

Sesampainya di sana, putri tidak dibunuh, melainkan diminta menaiki rakit berbekal bekal bokoa ibeun dan seekor ayam biring untuk menjauh dari wilayah kerajaan.

Agar seluruh kakaknya percaya bahwa tugasnya dijalankan dengan baik, ia membunuh seekor anjing untuk diambil darahnya dan ditunjukkan kepada sang kakak.

Rakit sang putri yang berhari-hari terbawa arus air akhirnya menepi di Air Ketahun yang dekat dengan perkampungan Pulau Pagai.

Putri Serindang Bulan kemudian dibawa oleh Tuanku Setio Barat ke Indrapura, kerajaannya. Ia memutuskan menikahi sang putri dan mengundang keenam kakak calon istrinya untuk meminta restu.

Kisah putri Serindang Bulan di Bengkulu mengandung pesan moral, yaitu ketabahan, bijaksana dalam mengambil keputusan, selalu rukun dengan saudara, dan jangan hanya memandang orang lain dari rupa.

Pesan moral cerita rakyat putri Serindang Bulan perlu diterapkan di masa kini agar hidup lebih damai. (NOV)

Baca juga: Legenda Hainuwele, Cerita Gadis Kelapa dan Berbagai Mitosnya