Sejarah Ayam Betutu, Warisan Kuliner Bali yang Populer
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik suatu hidangan khas tersimpan perjalanan budaya, tradisi, dan identitas masyarakat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Seperti itulah sejarah ayam betutu, yang erat dengan budaya Bali.
Ketika berbicara mengenai kuliner Nusantara, perhatian sering kali tertuju pada cita rasa yang kaya dan menggugah selera. Setiap makanan tradisional sejatinya memiliki kisah yang tidak kalah menarik dibandingkan kelezatannya.
Sejarah Ayam Betutu
Sejarah ayam betutu tidak dapat dipisahkan dari kekayaan kuliner Pulau Bali yang terkenal dengan penggunaan rempah-rempah melimpah.
Hidangan tradisional ini bukan hanya dikenal karena cita rasanya yang khas, tetapi juga memiliki perjalanan sejarah yang panjang.
Di balik kelezatannya, ayam betutu menyimpan kisah mengenai perkembangan budaya dan tradisi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Ayam betutu merupakan makanan khas Bali yang berasal dari wilayah Gianyar.
Hidangan ini pertama kali diperkenalkan oleh Ni Wayan Tempeh atau Men Tempeh, warga Abiansi, Gianyar, pada tahun 1976.
Bersama sang suami, I Nyoman Suratna yang berasal dari Bangli, ia mendirikan warung yang menyajikan ayam betutu hingga kemudian dikenal oleh masyarakat luas.
Istilah betutu berasal dari gabungan dua kata, yaitu tunu yang berarti bakar dan be yang berarti daging. Oleh sebab itu, betutu memiliki makna sebagai daging yang dibakar.
Menurut informasi dari rri.co.id, sejarah ayam betutu awalnya dimasak menggunakan api dari sekam padi.
Hidangan ini bukan sekadar makanan sehari-hari, melainkan menjadi sajian penting dalam berbagai upacara keagamaan, pesta pernikahan, serta beragam prosesi adat yang diselenggarakan di Bali.
Seiring berjalannya waktu, teknik pengolahan ayam betutu mengalami perubahan mengikuti perkembangan peralatan memasak.
Jika sebelumnya dimasak secara tradisional menggunakan api sekam, kini proses pemanggangannya banyak dilakukan dengan oven maupun alat pemanggang modern lainnya.
Selain mudah ditemukan di berbagai rumah makan dan restoran di Bali, ayam betutu juga telah tersedia di berbagai daerah di luar Pulau Bali.
Dalam proses memasaknya, ayam terlebih dahulu dibungkus menggunakan daun pinang, kemudian ditutup dengan bara sekam. Setelah itu, ayam dimasukkan ke dalam lubang tanah yang berisi batu-batu yang sebelumnya telah dipanaskan.
Teknik memasak tradisional tersebut merupakan warisan dari masa Kerajaan Majapahit pada abad ke-16, ketika pengaruh Islam mulai berkembang di Pulau Jawa.
Pada masa itu, banyak masyarakat Majapahit yang tetap memeluk agama Hindu kemudian berpindah ke Pulau Bali.
Bersamaan dengan perpindahan tersebut, berbagai unsur budaya turut dibawa, termasuk tradisi kuliner. Karena itulah, sebagian besar makanan khas Bali memiliki pengaruh budaya Majapahit, termasuk ayam betutu.
Pada awalnya, cita rasa hidangan ini cenderung manis karena dipengaruhi karakter masakan Jawa pada masa penyebaran Islam.
Namun, setelah berkembang di Bali, racikan bumbunya mengalami penyesuaian dengan penggunaan rempah-rempah khas daerah setempat sehingga menghasilkan rasa yang lebih pedas.
Hingga sekarang, cita rasa tersebut tetap dipertahankan dan menjadikan ayam betutu sebagai salah satu kuliner khas Bali yang dikenal luas. (DANI)
Baca juga: Asal Usul Gunung Krakatau dan Munculnya Anak Krakatau