Sejarah Grebeg Maulud dalam Budaya Jawa
Membagikan informasi dari berbagai topik.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perjalanan sejarah Grebeg Maulud berkaitan erat dengan akulturasi budaya Jawa dengan ajaran agama Islam yang digagas oleh Wali Songo.
Grebeg Maulud merupakan upacara tradisional Keraton Yogyakarta dan Surakarta yang rutin diadakan setahun sekali di tanggal 12 Rabiul Awal.
Sejarah Grebeg Maulud dalam Pandangan Budaya Jawa
Mengutip laman tby.jogjaprov.go.id, sejarah Grebeg Maulud berawal dari tradisi yang dicetuskan oleh penyebar agama Islam di Tanah Jawa yakni Walisongo, bernama Sunan Kalijaga dan Raden Patah.
Grebeg Maulud pertama kali diadakan pada abad ke-15 di halaman Masjid Agung Demak. Tujuan penyelenggaraannya sebagai metode dakwah agar Islam mudah diterima oleh masyarakat Jawa saat itu
Acaranya meliputi pertunjukan wayang kulit yang diiringi dengan musik gamelan.
Wayang kulit dipilih karena sangat menarik untuk dijadikan sebagai media penyampai pesan moral dan religius dengan cara yang menghibur dan mendidik.
Tidak hanya sebagai sarana dakwah saja, acara Grebeg Maulud juga diadakan untuk tujuan menghibur masyarakat sekaligus mendekatkan hubungan antara keluarga keraton dengan rakyat.
Sultan Hamengkubuwono I, raja pertama Kerajaan Mataram yang kini dikenal sebagai Yogyakarta, menjadikan Grebeg Maulud sebagai bagian dari warisan budaya dan agama di wilayahnya.
Melihat perjalanan sejarahnya, Grebeg Maulud tidak hanya dianggap sebagai perayaan kelahiran Nabi Muhammad saja, melainkan juga simbol dari pengaruh penyebaran Islam di tanah Jawa.
Masyarakat juga menganggap tradisi ini sebagai wujud rasa syukur atas limpahan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karenanya, setidaknya ada tujuh rangkaian acara di dalamnya.
Rangkaian acara yang dimaksud mulai dari miyos gangsa, numplak wajik, kondur gangsa, tumplak, pasowanan grebeg, arak-arakan gunungan, dan diakhiri dengan pembagian gunungan.
Gunungan yang dibagikan pada masyarakat dalam acara Grebeg Maulud berisi berbagai hasil bumi seperti sayur, buah, dan beras, yang seluruhnya dibagikan ke masyarakat.
Jumlah gunungannya sendiri ada enam, empat diarak menuju Masjid Besar Kauman, sementara dua lainnya dibawa ke Istana Pakualaman dan Kantor Gubernur DIY.
Demikian ulasan seputar sejarah Grebeg Maulud yang digunakan untuk mempermudah masyarakat Jawa menerima ajaran agama Islam. (NOV)
Baca juga: Asal Usul Gudeg dan Filosofi di Balik Cita Rasanya yang Khas