Sejarah Kerak Telor, Warisan Kuliner Betawi yang Mendunia
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah kerak telor selalu menarik untuk dibahas karena di balik tampilannya yang sederhana, tersimpan kisah panjang tentang budaya, tradisi, dan identitas masyarakat Betawi.
Di tengah pesatnya perkembangan kuliner modern yang terus bermunculan dengan berbagai inovasi, makanan tradisional tetap memiliki tempat istimewa di hati banyak orang.
Tidak sedikit hidangan khas Nusantara yang mampu bertahan selama puluhan bahkan ratusan tahun karena cita rasanya yang khas serta nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Sejarah Kerak Telor
Dikutip dari laman dinaskebudayaan.jakarta.go.id, sejarah kerak telor tidak dapat dipisahkan dari perjalanan kuliner khas Betawi yang telah menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia.
Hidangan tradisional ini dikenal sebagai makanan yang dibuat dari beras ketan, telur, dan berbagai bahan pelengkap yang menghasilkan cita rasa khas.
Seiring berjalannya waktu, kerak telor tidak hanya dikenal sebagai jajanan tradisional, tetapi juga memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) tingkat nasional pada tahun 2014.
Penetapan tersebut menunjukkan bahwa kerak telor memiliki nilai budaya yang penting sekaligus menjadi salah satu warisan kuliner yang terus dijaga keberadaannya.
Kerak telor dibuat menggunakan beras ketan putih sebagai bahan utama yang kemudian dipadukan dengan garam, merica bubuk, kelapa muda parut yang telah disangrai atau serundeng, serta telur ayam maupun telur bebek.
Selain bahan-bahan tersebut, hidangan ini juga dilengkapi dengan ebi, bawang goreng, dan bahan lainnya sesuai kebutuhan.
Perpaduan setiap bahan menghasilkan cita rasa gurih yang menjadi ciri khas kerak telor, sehingga makanan ini tetap dikenal dan dinikmati hingga sekarang.
Selain memiliki cita rasa yang khas, kerak telor juga mengandung makna yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Hidangan ini melambangkan kehidupan manusia yang mengalami perubahan lingkungan secara alamiah.
Di sisi lain, kerak telor juga menjadi perlambang pergaulan yang harmonis. Nilai tersebut menjadikan kerak telor bukan hanya sekadar makanan tradisional, melainkan juga bagian dari warisan budaya yang menyimpan makna tentang keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam penggunaannya, kerak telor sering disajikan sebagai makanan ringan atau kudapan pada berbagai kesempatan.
Tidak hanya itu, hidangan khas Betawi ini juga menjadi salah satu menu yang hadir dalam industri pariwisata sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan kuliner daerah.
Kerak telor juga kerap disajikan dalam acara seremonial, jamuan makan, stan pameran, atraksi pariwisata, hingga pertunjukan seni budaya yang menampilkan kekayaan tradisi Indonesia.
Pengembangan kerak telor terus dilakukan dalam berbagai bentuk tanpa menghilangkan identitasnya sebagai kuliner tradisional. Selain disajikan sebagai makanan, kerak telor juga dapat dijadikan suvenir maupun media pendukung lainnya untuk memperkenalkan budaya Betawi.
Bahkan, gerobak beserta perlengkapan memasaknya sering dimanfaatkan sebagai bagian dari display pada berbagai kegiatan budaya.
Melalui berbagai bentuk pemanfaatan tersebut, sejarah kerak telor tetap mempertahankan fungsinya sebagai salah satu warisan kuliner Betawi yang memiliki nilai budaya dan terus dikenal oleh masyarakat luas. (KIKI)
Baca juga: Asal Usul Rujak Cingur, Perjalanan Kuliner Tradisional yang Bertahan hingga Kini