Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon Secara Lengkap
Membagikan informasi dari berbagai topik.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang Kesultanan Cirebon sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di pesisir utara Pulau Jawa.
Hingga sekarang, bangunan bersejarah yang berada di Kelurahan Kesepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, masih berdiri kokoh dan menjadi saksi berbagai peristiwa penting pada masa lalu.
Selain dikenal sebagai kediaman keluarga kesultanan, keraton ini juga menyimpan beragam peninggalan yang menggambarkan perpaduan budaya Jawa, Sunda, Islam, Tiongkok, dan Eropa.
Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon Sebagai Pusat Penyebaran Ajaran Islam
Dikutip dari laman kelkesepuhan.cirebonkota.go.id, Sejarah Keraton Kasepuhan pada mulanya bernama Keraton Pakungwati dan pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon.
Kompleks keraton ini terdiri atas dua bangunan utama, yakni Dalem Agung Pakungwati yang didirikan oleh Pangeran Cakrabuana pada tahun 1430 serta kompleks Keraton Pakungwati yang dibangun oleh Pangeran Mas Zainul Arifin pada tahun 1529 M.
Nama Pakungwati diambil dari Ratu Dewi Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana sekaligus istri Sunan Gunung Jati. Setelah Ratu Dewi Pakungwati wafat pada tahun 1549, nama tersebut tetap diabadikan sebagai nama keraton sebelum akhirnya dikenal sebagai Keraton Kasepuhan.
Di dalam kawasan keraton terdapat museum yang menyimpan berbagai benda pusaka, naskah kuno, lukisan kerajaan, hingga Kereta Singa Barong yang dahulu digunakan oleh Sunan Gunung Jati.
Kereta bersejarah tersebut hanya dikeluarkan setiap tanggal 1 Syawal untuk menjalani tradisi pencucian pusaka. Sementara itu, bangunan utama keraton masih mempertahankan ruang tamu, ruang tidur, dan singgasana sultan yang menjadi lambang kejayaan Kesultanan Cirebon.
Keunikan Keraton Kasepuhan juga terlihat dari susunan bangunan dan arsitekturnya yang sarat makna. Kompleks keraton menghadap ke arah utara dengan Alun-Alun Sangkala Buana berada di bagian depan sebagai pusat kegiatan pemerintahan dan latihan keprajuritan pada masa lampau.
Di sisi barat berdiri Masjid Agung Sang Cipta Rasa, sedangkan di sisi timur dahulu terdapat kawasan pasar yang kini dikenal sebagai Pasar Kesepuhan.
Pengunjung akan melewati Gerbang Kreteg Pangrawit sebelum memasuki bangunan Pancaratna dan Pancaniti yang dahulu dimanfaatkan sebagai tempat pertemuan para pejabat serta lokasi latihan prajurit.
Di kawasan Siti Inggil terdapat lima bangunan tanpa dinding yang memiliki fungsi berbeda, mulai dari tempat sultan menyaksikan upacara hingga lokasi penabuhan gamelan Sekati pada perayaan Idulfitri dan Iduladha.
Selain itu, arsitektur keraton memadukan gaya Majapahit dengan unsur Islam yang tampak pada penggunaan gapura bata merah, hiasan porselen Tiongkok, serta jumlah tiang yang melambangkan rukun Islam, rukun iman, dan sifat-sifat Allah Swt. Keseluruhan unsur tersebut menjadikan Keraton Kasepuhan sebagai warisan budaya yang tetap dijaga dan dilestarikan hingga sekarang.(Arif)
Baca juga: Sejarah Pasola Menurut Masyarakat Sumba