Sejarah Rawon, Hidangan Tradisional yang Menjadi Kebanggaan Jawa Timur
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah rawon menjadi salah satu topik yang selalu menarik untuk dibahas karena hidangan khas Indonesia ini bukan sekadar makanan, melainkan juga bagian dari warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.
Di balik semangkuk kuah hitam yang begitu khas, tersimpan kisah panjang tentang tradisi, kebiasaan, dan kekayaan kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tak heran jika rawon hingga kini tetap mampu mempertahankan popularitasnya, bahkan di tengah maraknya sajian modern yang terus bermunculan.
Sejarah Rawon dan Perjalanan Panjang Menjadi Ikon Kuliner Jawa Timur
Sejarah rawon menunjukkan bahwa hidangan khas Jawa Timur ini memiliki perjalanan yang sangat panjang.
Menurut informasi dari diskominfo.probolinggokota.go.id, makanan tradisional tersebut diperkirakan telah berusia lebih dari 1.000 tahun.
Bukti mengenai keberadaannya ditemukan dalam Prasasti Taji yang diterbitkan pada tahun 901 Masehi oleh Rakryan I Watu Tihang Pu Sanggramadurandara.
Dalam prasasti itu, rawon disebut dengan nama Rarawwan. Prasasti Taji sendiri terdiri atas tujuh lempeng tembaga yang ditemukan di Dukuh Taji, Desa Gelanglor, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada tahun 1868.
Penemuan tersebut menjadi salah satu bukti penting yang menunjukkan bahwa rawon telah dikenal sejak masa lampau.
Selain tercatat dalam Prasasti Taji, keberadaan rawon juga diperkuat oleh bukti sejarah lainnya. Pada masa lalu, hidangan ini diketahui menjadi salah satu makanan yang sangat digemari oleh keluarga kerajaan di Keraton Mangkunegaran Surakarta.
Informasi tersebut ditemukan dalam catatan resep berjudul Serat Wulangan Olah-Olahan Warna-Warni yang dicetak pada tahun 1926.
Catatan tersebut menjadi salah satu sumber yang memperlihatkan bahwa rawon telah menjadi bagian dari tradisi kuliner di lingkungan kerajaan.
Sejumlah penelitian terkait sejarah rawon juga menduga bahwa nama rawon berasal dari kata dalam bahasa Jawa, yaitu rawa, yang merujuk pada warna air rawa yang gelap. Dugaan tersebut dianggap selaras dengan warna kuah rawon yang hitam pekat.
Selain itu, nama rarawwan juga tercantum dalam naskah Bomakawya atau Bhomantaka (kesyan ikang limas kula-kulah kela-kěla kalupan haryas ikâmanis milu manis-manis ika mamanis nyâlap-alapnya kalap angalap manah ikang angalap henak ikang rarawwan amareg-marĕgi ring aharep).
Karena memiliki kuah berwarna kehitaman yang khas, rawon di luar negeri dikenal dengan sebutan Black Soup.
Rawon merupakan sup daging sapi yang umumnya menggunakan bagian betis atau iga sapi sehingga menghasilkan cita rasa yang kaya sekaligus mengandung berbagai nutrisi.
Kuahnya dibuat menggunakan perpaduan rempah-rempah, seperti bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, kunyit, dan serai, sehingga menghasilkan aroma yang segar.
Sementara itu, warna hitam yang menjadi ciri khas rawon berasal dari penggunaan kluwek.
Bahan inilah yang memberikan cita rasa khas sekaligus memperkuat karakter rawon sebagai salah satu hidangan tradisional yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. (DANI)
Baca juga: Sejarah Ayam Betutu, Warisan Kuliner Bali yang Populer