Sejarah Tahu Gejrot dan Rahasia Kepopulerannya di Berbagai Daerah
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah tahu gejrot selalu berhasil menarik perhatian karena kuliner tradisional ini tidak hanya dikenal lewat cita rasanya yang khas, tetapi juga menyimpan cerita yang membuat banyak orang penasaran.
Di berbagai daerah, tahu gejrot hadir sebagai salah satu jajanan yang mudah ditemukan, mulai dari pinggir jalan hingga pusat kuliner yang ramai dikunjungi.
Keberadaannya pun seolah tidak pernah kehilangan penggemar, bahkan di tengah munculnya beragam makanan modern yang terus bermunculan.
Sejarah Tahu Gejrot, Kuliner Tradisional Cirebon
Sejarah tahu gejrot menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan kuliner khas Cirebon yang hingga kini tetap digemari oleh berbagai kalangan.
Cita rasanya yang memadukan asam, manis, dan pedas menjadikannya memiliki karakter yang khas.
Selain itu, harganya yang terjangkau turut membuat tahu gejrot tetap diminati dari waktu ke waktu. Di balik kepopulerannya, makanan ini juga menyimpan sejarah yang menjadi bagian dari kekayaan budaya kuliner Cirebon.
Mengutip dari rri.co.id, sejarah tahu gejrot berkaitan dengan keberadaan masyarakat keturunan Tionghoa yang menetap di Desa Jatiseeng, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Kawasan tersebut dipilih karena letaknya berdekatan dengan Sungai Cisanggarung. Kedekatan dengan aliran sungai memberikan kemudahan dalam menjalankan aktivitas ekonomi, terutama karena transportasi menggunakan perahu menjadi sarana yang penting pada masa itu.
Kondisi tersebut kemudian turut memengaruhi perkembangan berbagai aktivitas masyarakat, termasuk dalam bidang kuliner.
Memasuki abad ke-18, tahu gejrot mulai diperkenalkan oleh masyarakat keturunan Tionghoa yang tinggal di wilayah tersebut. Pada awalnya, makanan ini dibuat oleh para saudagar untuk disajikan kepada buruh dan pekerja.
Oleh sebab itu, penyajiannya menggunakan piring tanah liat berukuran kecil yang hingga sekarang masih identik dengan tahu gejrot.
Seiring berjalannya waktu sejarah tahu gejrot, makanan ini semakin dikenal oleh masyarakat Ciledug dan mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Popularitas tahu gejrot kemudian terus berkembang setelah para saudagar Tionghoa membawa hidangan berkuah asam, manis, dan pedas tersebut ke dalam prosesi ritual di Klenteng Jamblang.
Pada tradisi itu, masyarakat keturunan Tionghoa memiliki kebiasaan membawa berbagai makanan sebagai persembahan.
Melalui kegiatan tersebut, tahu gejrot semakin dikenal oleh masyarakat yang lebih luas sehingga keberadaannya terus bertahan hingga sekarang.
Nama tahu gejrot juga memiliki kisah yang menarik. Menurut salah satu cerita yang berkembang, istilah tersebut berasal dari cara pedagang menuangkan air gula merah ke atas potongan tahu.
Proses menuang itu dikenal dengan sebutan "digejrotkan", sementara bunyi yang terdengar ketika kuah dituangkan menyerupai suara "jrot-jrot".
Dari situlah nama tahu gejrot dipercaya muncul. Namun, terdapat pula versi lain yang menyebutkan bahwa nama tersebut berasal dari rasa pedasnya yang sangat kuat. Dalam bahasa setempat dikenal istilah "ngagejrot" yang memiliki makna pedas luar biasa. (KIKI)
Baca juga: Asal Usul Rendang, Kuliner Legendaris yang Mendunia