Takbiran adalah Apa? Simak Penjelasannya di Sini
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Takbiran adalah salah satu tradisi umat Islam yang sangat lekat dengan perayaan Hari Raya Idulfitri maupun Iduladha.
Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan mengumandangkan kalimat takbir, yaitu “Allahu Akbar,” sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya.
Takbiran tidak hanya menjadi simbol kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan, tetapi juga menjadi momen penuh kebahagiaan dan rasa syukur bagi umat Muslim di seluruh dunia.
Takbiran adalah Tradisi dalam Perayaan Hari Raya
Dikutip dari laman kominfo.jatimprov.go.id, mengungkapkan bahwa takbiran adalah tradisi umat Islam yang dilakukan dengan mengumandangkan kalimat takbir, yaitu “Allahu Akbar”, sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT menjelang Hari Raya Idulfitri atau Iduladha.
Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada malam sebelum hari raya hingga menjelang pelaksanaan Sholat Ied.
Selain menjadi ungkapan rasa syukur atas selesainya ibadah puasa di bulan Ramadan, takbiran juga menjadi sarana syiar Islam yang memperkuat suasana religius di tengah masyarakat.
Di Indonesia, takbiran tidak hanya dipahami sebagai ibadah yang dilakukan secara lisan, tetapi juga berkembang menjadi tradisi yang berpadu dengan budaya lokal.
Gema takbir yang terdengar dari masjid, musala, maupun dari pawai takbir keliling menjadi pemandangan yang umum dijumpai di berbagai daerah.
Kehadiran bedug yang ditabuh secara bergantian serta kegiatan takbir keliling menunjukkan bagaimana masyarakat merayakan malam kemenangan dengan cara yang tetap berakar pada nilai keagamaan.
Tradisi takbiran di Nusantara telah dikenal sejak masa kesultanan Islam pada sekitar abad ke-15 hingga abad ke-18 Masehi.
Pada masa tersebut, takbiran menjadi bagian dari praktik keagamaan masyarakat Muslim. Ketika memasuki masa kolonial pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, pelaksanaannya sempat mengalami keterbatasan karena situasi penjajahan.
Meskipun demikian, tradisi ini tetap berlangsung dan bahkan sering dimaknai sebagai bentuk perlawanan simbolis terhadap kondisi saat itu.
Seiring berjalannya waktu, bentuk perayaan takbiran terus berkembang tanpa meninggalkan makna utamanya. Di sejumlah daerah di Pulau Jawa, tradisi takbir keliling masih menjadi bagian penting dari perayaan malam Idulfitri.
Sementara di daerah lain muncul tradisi khas yang menampilkan kekayaan budaya setempat, seperti pawai obor, tabuhan alat musik tradisional, atau kegiatan kebersamaan masyarakat di sekitar masjid.
Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan perubahan pada cara pelaksanaannya. Saat ini, takbiran tidak hanya dilakukan secara langsung di masjid atau di jalanan, tetapi juga disiarkan melalui media digital.
Siaran langsung takbiran memungkinkan masyarakat tetap mengikuti suasana malam hari raya meskipun berada di tempat yang berbeda.
Hal ini menunjukkan bahwa tradisi takbiran mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan esensinya.
Pada dasarnya, takbiran tetap memiliki makna utama sebagai bentuk pengakuan atas kebesaran Allah sekaligus ungkapan syukur atas nikmat yang diberikan.
Oleh karena itu, tradisi ini dipahami sebagai momentum religius yang mengingatkan umat Islam untuk memaknai kemenangan hari raya dengan rasa syukur dan kesadaran spiritual.(DANI)
Baca juga: Apa Itu Qanaah? Ini Penjelasan dan Ciri-cirinya