Tarian yang Hampir Punah dan Upaya Pelestariannya
Membagikan informasi dari berbagai topik.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia menyimpan ratusan tarian tradisional yang menjadi jejak perjalanan sejarah, dan identitas masyarakat. Sayangnya, tidak semua tarian tersebut masih hidup di tengah masyarakat. Terdapat tarian yang hampir punah karena berbagai faktor.
Sebagian mulai jarang dipentaskan, kehilangan regenerasi penari, bahkan berada di ambang kepunahan karena minimnya perhatian dan perubahan gaya hidup generasi muda. Berbagai upaya pelestarian terus dilakukan, mulai dari pendokumentasian, hingga pendidikan.
Tarian yang Hampir Punah Karena Berbagai Faktor
Setiap gerak, irama, dan kostum dalam tarian tradisional menjadi warisan budaya yang menyimpan berbagai cerita. Berikut adalah tarian yang hampir punah dan upaya pelestariannya berdasarkan situs web rri.co.id.
Indonesia memiliki banyak tarian tradisional yang menjadi identitas budaya setiap daerah. Sayangnya, tidak semua tarian mampu bertahan di tengah perkembangan zaman.
Perubahan gaya hidup, berkurangnya regenerasi seniman, hingga minimnya ruang pertunjukan membuat beberapa kesenian tradisional perlahan ditinggalkan. Salah satu contohnya adalah Ronggeng dalam pertunjukan Ketuk Tilu dari Jawa Barat.
Ronggeng merupakan tokoh utama dalam pertunjukan Ketuk Tilu. Pada masa lalu, keberadaannya bukan sekadar penari yang menghibur masyarakat, melainkan memiliki fungsi sakral sebagai pemimpin upacara adat.
Dalam berbagai ritual, seperti syukuran panen dan ruwatan, ronggeng dipercaya menjadi penghubung antara manusia dengan leluhur. Seiring berjalannya waktu, fungsi ritual tersebut mulai bergeser menjadi hiburan rakyat.
Keunikan ronggeng terletak pada kemampuannya menyatukan tari, nyanyian, dan interaksi dengan penonton. Gerakan khas seperti goyang, mincid, dan geboy menciptakan suasana pertunjukan yang hidup.
Gerakan-gerakan tersebut kemudian menginspirasi lahirnya Tari Jaipong yang kini jauh lebih populer. Akibatnya, masyarakat lebih mengenal Jaipong dibandingkan Ronggeng atau Ketuk Tilu sebagai akar sejarahnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pelestarian kesenian tradisional. Minat generasi muda terhadap tarian modern membuat jumlah penari ronggeng semakin berkurang.
Selain itu, kesempatan tampil juga tidak sebanyak dahulu karena berbagai upacara adat yang menjadi ruang pertunjukan mulai jarang dilaksanakan. Meski demikian, berbagai upaya pelestarian terus dilakukan.
Pemerintah daerah, sanggar seni, serta komunitas budaya mulai mengadakan festival, pelatihan, hingga pementasan rutin yang memperkenalkan kembali Ketuk Tilu kepada masyarakat. Kehadiran media digital juga dimanfaatkan sebagai dokumentasi.
Pengenalan kesenian tradisional melalui sekolah juga menjadi langkah penting. Hal ini dilakukan agar anak-anak mengenal akar budayanya sejak dini.
Melestarikan tarian yang hampir punah bukan sekadar menjaga sebuah pertunjukan seni. Dengan dukungan masyarakat, pemerintah, dan generasi muda, tarian yang hampir punah seperti Ronggeng dalam Ketuk Tilu memiliki peluang untuk terus hidup. (Fia)
Baca juga: Makna Tradisi Tedak Siten dalam Budaya Jawa dan Cara Pelaksanaannya