Konten dari Pengguna

Tata Cara Shalat Gerhana Bulan dan Dasar Hukumnya

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tata cara shalat gerhana bulan , Pexels/Defrino Maasy
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tata cara shalat gerhana bulan , Pexels/Defrino Maasy

Memahami tata cara shalat gerhana bulan menjadi hal penting bagi setiap Muslim ketika fenomena gerhana terjadi. Rasulullah saw menganjurkan umat Islam untuk melaksanakan salat gerhana (salat khusuf) ketika gerhana bulan terjadi.

Gerhana bukan sekadar peristiwa astronomi yang dapat dijelaskan secara ilmiah, melainkan juga menjadi salah satu tanda kebesaran Allah Swt. Fenomena ini mengajak manusia untuk semakin memperbanyak doa, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Tata Cara Shalat Gerhana Bulan Sesuai Ajaran Rasulullah

Ilustrasi tata cara shalat gerhana bulan , Pexels/Riza Azhari

Salat gerhana bulan atau salat khusuf merupakan ibadah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan ketika terjadi gerhana bulan.

Salat gerhana bulan atau saalat khusuf memiliki hukum sunnah muakkadah. Salah satu hadis yang menjadi dasar hukum salat gerhana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Rasulullah saw bersabda:

"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda (kekuasaan) Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Maka apabila kalian melihat gerhana, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, laksanakanlah shalat, dan bersedekahlah."

Salat ini menjadi salah satu bentuk penghambaan kepada Allah Swt sekaligus pengingat bahwa segala fenomena alam terjadi atas kehendak-Nya. Umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan momen gerhana dengan memperbanyak ibadah, doa, dan istighfar.

Dalam pelaksanaannya, saalat khusuf terdiri atas dua rakaat. Syekh Nawawi menjelaskan bahwa terdapat tiga tingkatan pelaksanaan, yaitu tingkatan paling sederhana, tingkatan pertengahan, dan tingkatan yang paling sempurna.

Tingkatan yang umum dipraktikkan adalah dua rakaat dengan dua kali rukuk dan dua kali sujud pada setiap rakaat.

Berikut adalah tata cara shalat gerhana bulan berdasarkan situs web kemenag.go.id.

  1. Diawali dengan niat yang dibarengi takbiratul ihram.

  2. Dilanjutkan membaca doa iftitah, ta'awudz, surah Al-Fatihah.

  3. Membaca surah Al-Qur'an dengan suara lantang (jahr).

  4. Rukuk pertama yang dipanjangkan dan bangkit untuk i'tidal.

  5. Membaca Al-Fatihah dan surah yang lebih pendek sebelum melakukan rukuk kedua yang durasinya lebih singkat daripada rukuk pertama.

  6. Melaksanakan i'tidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua.

  7. Rakaat kedua dilakukan dengan tata cara yang sama, namun bacaan surahnya lebih pendek dibandingkan rakaat pertama.

  8. Salat kemudian diakhiri dengan tasyahud dan salam.

Perbedaan utama salat gerhana dengan salat sunnah lainnya terletak pada adanya dua kali rukuk dalam setiap rakaat. Pada tingkatan yang lebih sempurna, dianjurkan membaca surah-surah yang panjang sesuai kemampuan.

Contohnya adalah Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, atau Al-Ma'idah. Selain itu juga disarankan untuk memanjangkan rukuk dan sujud sebagai bentuk kekhusyukan dalam beribadah.

Tata cara shalat gerhana bulan dapat dilaksanakan sesuai ketentuan. Dengan melaksanakan saalat khusuf, umat Islam diajak untuk merenungkan kebesaran Allah Swt dan menjadikan fenomena gerhana sebagai momentum meningkatkan keimanan. (Fia)

Baca juga: Tata Cara Sholat Dhuha Lengkap dengan Bacaannya dan Artinya