Tradisi Kelahiran di Indonesia dari Berbagai Daerah beserta Maknanya
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tradisi kelahiran di Indonesia tidak sekadar menjadi rangkaian kegiatan setelah seorang ibu melahirkan bayi ke dunia, melainkan juga menjadi bagian dari cara masyarakat memaknai kehidupan, keluarga, serta hubungan antarsesama.
Setiap kebiasaan yang dilakukan biasanya tumbuh dari nilai-nilai yang telah lama hidup di tengah masyarakat dan kemudian diteruskan oleh keluarga kepada generasi berikutnya.
Menariknya, keberagaman tersebut membuat suasana penyambutan kelahiran dapat terasa berbeda dari satu lingkungan dengan lingkungan lainnya.
Tradisi Kelahiran di Indonesia yang Sarat Makna
Kelahiran seorang anak menjadi momen penting yang kerap disambut melalui berbagai tradisi kelahiran di Indonesia. Di tengah keberagaman budaya, setiap masyarakat memiliki cara tersendiri untuk menyambut hadirnya anggota keluarga baru.
Tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kebiasaan turun-temurun, tetapi juga berkaitan dengan rasa syukur, kebersamaan, serta harapan bagi kehidupan anak yang baru lahir.
Tradisi Brokohan
Berdasarkan informasi dari sendangsari.bantulkab.go.id, brokohan merupakan upacara adat Jawa yang dilakukan untuk menyambut kelahiran bayi. Istilah brokohan berarti berkah sehingga tradisi ini dilaksanakan dengan harapan agar kehadiran seorang bayi membawa keberkahan.
Selain itu, brokohan menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan rezeki dan kelancaran dalam proses persalinan.
Sajian dalam brokohan meliputi ayam ingkung, nasi tumpeng, jajanan pasar, serta hidangan pendukung lainnya. Sebagai bentuk rasa syukur, berbagai sajian tersebut diberikan atau disedekahkan kepada tetangga dan kerabat. Di Dusun Mangir Lor, nuansa budaya Jawa masih begitu kuat sehingga tradisi brokohan tetap dilestarikan.
Bahkan, tradisi ini tidak hanya dilakukan ketika bayi lahir, tetapi juga saat sapi melahirkan. Pada Minggu, 25 Agustus 2019, salah seorang warga Mangir Lor melaksanakan brokohan sapi dengan mengundang tetangga, Bapak Dukuh, Ketua RT, dan simbah kaum.
Setelah ubo rampe atau sajian dihidangkan dan didoakan oleh simbah kaum, makanan tersebut disantap bersama para hadirin.
Pemilik hajat berharap anak sapi yang baru lahir selalu diberi kesehatan dan dapat tumbuh dengan cepat. Sementara itu, sapi yang melahirkan diharapkan segera pulih serta dapat menyusui dengan lancar.
Tradisi Sepasaran
Tradisi sepasaran atau peringatan hari kelima setelah kelahiran masih dijumpai di wilayah Desa Sawahan. Pelaksanaan tradisi ini biasanya ditandai dengan pemberian nama bayi yang disaksikan oleh para pengepung atau orang-orang yang hadir dalam upacara.
Sebelum acara tersebut, dilaksanakan kenduri yang dipimpin oleh tokoh adat sebagai bentuk rasa syukur atas karunia yang diberikan Tuhan. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama sebagai wujud kebersamaan dan gotong royong.
Sebelum maupun sesudah sepasaran, rumah warga yang baru saja melahirkan biasanya menjadi pusat berkumpul masyarakat.
Para ibu turut menunggui bayi dan ibu di dalam rumah, sedangkan para bapak berkumpul di dalam rumah hingga halaman untuk turut merasakan kebahagiaan atas kelahiran tersebut. Rasa kebersamaan pun terasa begitu kuat.
Tradisi Suku Muna untuk Anak Kembar
Selain brokohan dan sepasaran, terdapat pula kegiatan yang menjadi tradisi suku Muna dalam menyambut anak yang lahir kembar dengan jenis kelamin berbeda.
Tradisi tersebut menjadi bagian dari kegiatan masyarakat dalam menyambut kelahiran anak kembar laki-laki dan perempuan. Beragam tradisi kelahiran tersebut memperlihatkan bahwa hadirnya seorang anak dapat menjadi momen yang dirayakan dengan penuh kebersamaan.
Brokohan, sepasaran, maupun tradisi suku Muna untuk menyambut anak kembar dengan jenis kelamin berbeda memiliki bentuk pelaksanaan yang tidak sama, tetapi semuanya menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat dalam menyambut kelahiran.
Di dalam pelaksanaannya, terdapat pula kebersamaan melalui doa, makan bersama, serta kehadiran keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar.
Tradisi kelahiran di Indonesia, yang masih dijalankan tersebut menjadi bagian dari kehidupan budaya yang diwariskan dan tetap hadir di tengah perubahan zaman. (DANI)
Baca juga: Siapa Bujang Kurap dalam Cerita Rakyat Sumatra Selatan? Ini Jawabannya