Tujuan Pemerintah Kolonial Belanda Melaksanakan Sistem Tanam Paksa
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tujuan pemerintah kolonial Belanda melaksanakan sistem tanam paksa adalah untuk mengeksploitasi lahan pertanian Bumiputera dan kekayaan alam Indonesia yang melimpah di era itu.
Kolonialisme Belanda meninggalkan luka kelam bagi bangsa Indonesia dan tak akan dilupakan oleh sejarah. Ribuan nyawa dan hasil alam Indonesia tak cukup menghidupi, karena habis dieksploitasi.
Tujuan Pemerintah Kolonial Belanda Melaksanakan Sistem Tanam Paksa adalah
Tujuan pemerintah kolonial Belanda melaksanakan sistem tanam paksa adalah apa saja? Jejaknya bisa ditelusuri lewat riwayat perbudakan kolonialisme dan pejabat lokal yang korup di era tanam paksa bertahun-tahun silam di Indonesia
Mengutip halaman marinews.mahkamahagung.go.id, tanam paksa adalah periode terkelam dalam sejarah kolonialisme Belanda di Nusantara. Tanam paksa adalah kebijakan paling tidak manusiawi di zaman kolonialisme.
Tujuan tanam paksa adalah untuk mengatasi kekosongan kas pemerintah kolonial Belanda akibat konflik bersenjata dengan Napoleon Bonaparte (Prancis) pada 1810-1811 dan Pangeran Diponegoro (Jawa) pada 1825-1830.
Sistem tanam paksa pada mulanya diterapkan di Pulau Jawa pada tahun 1830, kemudian merata di seluruh wilayah Hindia Belanda (Indonesia) pada 1840.
Mekanisme yang diterapkan sistem tanam paksa yakni seluruh masyarakat yang mempunyai lahan wajib menyisihkan 20% dari total lahannya untuk ditanam tumbuhan yang diwajibkan oleh Belanda.
Tumbuhan tersebut adalah komoditas ekspor unggulan di wilayah Eropa seperti kopi, tebu, teh dan indigofera atau tarum.
Beban untuk memastikan tanaman tumbuh subur semuanya diserahkan kepada si pemilik lahan, bukan pemerintah kolonial sebagai inisiator tanam paksa.
Setelah masa panen pun, masyarakat melalui perangkat desa diwajibkan mengirimkannya ke gudang yang sudah ditentukan oleh pemerintah kolonial.
Harga jual komoditas tumbuhan tanam paksa juga ditentukan dan dimonopoli oleh pemerintah Kolonial. Sehingga petani Indonesia tidak mendapatkan keuntungan dari sistem tanam paksa.
Setelah masa uji coba sistem ini dan ternyata berhasil selama 4 tahun, Pemerintah Belanda melegalisasi perbudakan melalui sistem tanam paksa pada tahun 1834 di atas Staatsblad 1834 No. 22.
Kemudian pemerintah kolonial yang dipimpin Johannes Van Den Bosch mengadu domba kaum bumiputera dengan mempekerjakan para bupati untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan tanam paksa.
Dengan piawainya, Van Den Bosch melanggengkan perbudakan itu dengan pemberian imbalan berupa honorarium dan bonus.
Perilaku koruptif dan sewenang-wenang menghiasi sistem tanam paksa. Penguasa lokal menjadi gelap mata dan tanaman yang ditumbuhi komoditas tanam paksa pun melebihi dari 20%.
Bahkan ditemukan penguasa lokal yang memeras keringat petani bumiputera dengan memaksakan lahan pertaniannya digunakan 100% untuk tumbuhan tanam paksa.
Pekerjaan yang dilakukan para petani bumiputera dahulu kala seperti halnya kerja rodi dan menanggung penderitaan.
Gara-gara berfokus memastikan tumbuhan tanam paksa menuai panen maksimal, akibatnya tanaman pangan seperti padi dan tumbuhan lainnya gagal panen. Akhirnya kelaparan dan penyakit pun menggerogoti keluarga kaum tani.
Kelompok politik liberal Belanda mengkiritisi sistem tanam paksa ini. Ini menyebabkan pemerintah kolonial menghentikannya meskipun sudah memberikan banyak keuntungan bagi Belanda.
Sistem tanam paksa resmi dihentikan pada 1870 setelah menuai banyak protes. Kemudian sistem ini diganti dengan kebijakan agraria kolonial dengan membentuk UU Agraria Tahun 1870 (Agrarische Wet 1870).
Selama 4 dekade tanam paksa, negeri jajahan Hindia Belanda telah menghasilkan uang sejumlah 832 juta gulden ke negeri kincir angin tersebut.
Tujuan pemerintah kolonial belanda melaksanakan sistem tanam paksa pun tercapai. Akhirnya utang kongsi dagang Belanda (VOC) dapat dilunasi berkat keuntungan yang dihasilkan sistem kejam ini. (Win)
Baca juga: Batas Antara Benua Asia dan Afrika adalah Apa? Ini Penjabarannya