Upacara Adat yang Hampir Punah di Indonesia dan Upaya Melestarikannya
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah upacara adat yang hampir punah di Indonesia, yang keberadaannya kini semakin jarang terlihat dalam kehidupan masyarakat.
Setiap daerah memiliki kebiasaan dan upacara adat yang tumbuh dari pengalaman masyarakat setempat.
Pelaksanaannya pun tidak selalu dilakukan setiap saat karena biasanya berkaitan dengan waktu, keadaan, atau kebutuhan tertentu.
Beberapa Upacara Adat yang Hampir Punah di Indonesia dan Faktornya
Upacara adat yang hampir punah di Indonesia menjadi bagian dari kekayaan budaya yang keberadaannya kini semakin jarang ditemukan.
Perubahan kehidupan masyarakat, arus modernisasi, serta berkurangnya generasi penerus membuat sejumlah ritual tradisional tidak lagi dilaksanakan sesering dahulu.
Padahal, berbagai upacara tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di daerah masing-masing dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Terdapat sejumlah ritual yang tergolong langka dan nyaris punah.
1. Pakanan Sahur atau Mamapas Lewu
Pakanan Sahur atau Mamapas Lewu merupakan ritual masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Upacara ini berkaitan dengan pembersihan desa sekaligus penghormatan kepada leluhur.
Namun, seiring berkembangnya era digital, pelaksanaan ritual tersebut semakin jarang dilakukan sehingga keberadaannya menjadi semakin langka.
2. Ulur-Ulur Telaga Buret
Di Tulungagung, Jawa Timur, terdapat tradisi Ulur-Ulur Telaga Buret yang dikenal sebagai upacara sakral. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus bagian dari upaya menjaga sumber air.
Dalam perkembangannya, pelaksanaan Ulur-Ulur Telaga Buret sempat mengalami kemunduran. Setelah itu, masyarakat melakukan revitalisasi sehingga tradisi tersebut kembali dilaksanakan.
3. Bebukukng
Bebukukng merupakan rangkaian ritual yang berkaitan dengan pemakaman masyarakat suku Dayak Linoh di Sintang, Kalimantan Barat. Dalam rangkaian tersebut, terdapat penggunaan alat musik tradisional yang bersifat sakral.
Tradisi ini termasuk salah satu ritual yang semakin jarang ditemukan seiring berkurangnya penerusan budaya dari generasi sebelumnya.
4. Dayango
Dikutip dari laman prokopim.pohuwatokab.go.id, Dayango adalah ritual tua yang berasal dari Gorontalo. Tradisi ini merupakan peninggalan kepercayaan animisme masyarakat suku Gorontalo dan berpusat di kawasan gunung yang dianggap sakral.
Sebagai ritual lama, Dayango kini termasuk tradisi yang hampir punah dan keberadaannya semakin terbatas.
5. Wiwitan
Masyarakat Jawa mengenal Wiwitan sebagai upacara tradisional yang dilakukan para petani untuk mengawali panen padi.
Tradisi tersebut berkaitan dengan upaya menjaga keseimbangan alam dan pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat agraris. Akan tetapi, pelaksanaan Wiwitan kini semakin jarang ditemukan di berbagai daerah.
Berbagai ritual tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam keberlangsungan tradisi adat di sejumlah wilayah Indonesia.
Ketika pelaksanaan upacara semakin jarang dan generasi penerusnya berkurang, keberadaan tradisi yang telah diwariskan sejak lama pun turut menghadapi kondisi yang semakin terbatas. (KIKI)
Baca juga: Filosofi Kain Gringsing Khas Bali dan Perannya dalam Upacara Adat