Konten dari Pengguna

Upaya Maulana Malik Ibrahim Menyebarkan Islam melalui Jalur Perdagangan

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Bagaimana upaya Maulana Malik Ibrahim menyebarkan Islam melalui jalur perdagangan. Foto: Unsplash.com/Markus Winkler
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bagaimana upaya Maulana Malik Ibrahim menyebarkan Islam melalui jalur perdagangan. Foto: Unsplash.com/Markus Winkler

Bagaimana upaya Maulana Malik Ibrahim menyebarkan Islam melalui jalur perdagangan menjadi pertanyaan yang berkaitan dengan cara dakwah dilakukan tanpa memisahkannya dari kehidupan sehari-hari.

Perjalanan dakwah Islam di Jawa tidak terlepas dari peran tokoh yang menggunakan pendekatan dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk dalam aktivitas ekonomi.

Aktivitas perdagangan dapat menjadi sarana membangun hubungan dengan penduduk sekaligus mengenalkan nilai-nilai Islam.

Penjelasan Bagaimana Upaya Maulana Malik Ibrahim Menyebarkan Islam melalui Jalur Perdagangan

Ilustrasi jalur perdagangan. Foto: Unsplash.com/Robin Canfield

Bagaimana upaya Maulana Malik Ibrahim menyebarkan Islam melalui jalur perdagangan? Perdagangan menjadi salah satu sarana dakwah Islam karena kegiatan jual beli membuka hubungan langsung antara pedagang dan masyarakat.

Dikutip dari pmc.ncbi.nlm.nih.gov, melalui interaksi yang terjadi dalam perdagangan tersebut, ajaran Islam dapat diperkenalkan bersamaan dengan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Maulana Malik Ibrahim menggunakan cara serupa ketika berdakwah di Gresik. Setelah datang ke Gresik pada akhir abad ke-14, Maulana Malik Ibrahim membuka tempat berdagang di lingkungan masyarakat.

Kegiatan tersebut membuat hubungan dengan penduduk terbentuk melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Barang dagangan dijual dengan harga yang relatif murah sehingga dapat dijangkau oleh masyarakat.

Cara berdagang tersebut tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga menjadi jalan untuk mendekati penduduk dan mengenali kondisi kehidupan di lingkungan sekitar.

Sikap ramah, sopan, jujur, dan dapat dipercaya turut memperkuat hubungan dengan masyarakat. Maulana Malik Ibrahim juga dikenal suka membantu penduduk yang mengalami kesulitan.

Hubungan yang terjalin melalui perdagangan kemudian digunakan sebagai ruang untuk memberikan nasihat dan mengenalkan ajaran Islam.

Pendekatan tersebut dilakukan tanpa membatasi hubungan hanya kepada kalangan tertentu. Maulana Malik Ibrahim bergaul dengan masyarakat dari berbagai kondisi sosial dan mempelajari bahasa serta kebiasaan setempat agar komunikasi berlangsung lebih mudah.

Cara tersebut membuat dakwah dapat disampaikan melalui percakapan dan hubungan sosial yang sudah terbangun.

Selain berdagang, Maulana Malik Ibrahim menggunakan kemampuan dalam pengobatan untuk membantu penduduk. Pengobatan diberikan tanpa menetapkan bayaran sehingga semakin banyak hubungan sosial terbentuk dengan masyarakat di sekitar Gresik.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pendekatan dakwah yang mengutamakan bantuan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dakwah kemudian berkembang melalui sarana pendidikan dan ibadah. Setelah pengikut Islam bertambah, Maulana Malik Ibrahim mendirikan masjid dan pesantren untuk kegiatan keagamaan serta pembelajaran Islam.

Pesantren tersebut menjadi tempat kaderisasi sehingga ajaran Islam dapat diteruskan oleh para pendakwah ke wilayah lain.

Perdagangan dengan demikian tidak berdiri sendiri dalam dakwah Maulana Malik Ibrahim.

Kegiatan jual beli menjadi pintu untuk membangun kedekatan, sedangkan sikap terpuji, bantuan kepada masyarakat, dan pendidikan agama memperluas proses penyebaran Islam di Gresik.

Bagaimana upaya Maulana Malik Ibrahim menyebarkan Islam melalui jalur perdagangan dapat dilihat dari pemanfaatan kegiatan jual beli sebagai sarana mendekati penduduk.

Cara tersebut kemudian diperkuat dengan hubungan sosial, pelayanan kepada masyarakat, serta pendidikan keagamaan. (Suc)

Baca Juga: Keyakinan bahwa Allah Itu Ada Padahal Allah Tidak Bisa Dilihat oleh Mata Manusia