Konten dari Pengguna

Henry Dunant, Bapak PMI Dunia dan Penerima Nobel Perdamaian Pertama

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jean Henry Dunant merupakan putra pertama dari pengusaha Jean-Jacques Dunant dan Antoinette Dunant-Colladon. Lahir di Jenewa, Swiss pada 8 Mei 1828.

Terlahir dari keluarga pengusaha yang memiliki kepedulian sosial tinggi Henry Dunant juga adalah pengusaha dan aktivis sosial warga negara Swiss. Lahir di tengah lingkungan keluarga penganut mashab Kalvin (Calvinist) yang taat, keluarganya mempunyai pengaruh yang signifikan di kalangan masyarakat Jenewa. Sejak kecil, kedua orangtuanya sudah mengajarkan akan pentingnya nilai kegiatan sosial. Ayahnya aktif membantu anak yatim piatu dan narapidana yang menjalani bebas bersyarat. Sedangkan ibunya sering melakukan kegiatan sosial dengan membantu orang sakit dan kaum miskin. Dunant tumbuh pada masa kebangkitan kesadaran beragama yang dikenal dengan Reveli.

Menginjak remaja, jiwa kepedulian sosial yang tinggi mulai terlihat dari diri Dunant di mana ia pada usia 18 tahun bergabung dengan Perhimpunan Amal Jemewa (Geneva Society for Alms Giving). Setahun kemudian ia mendirikan perkumpulan yang disebut Thursday Association, sebuah kelompok anak muda tanpa ikatan keanggotaan resmi yang melakukan pertemuan rutin untuk mempelajari Bible dan menolong kaum miskin. Selain itu ia juga terbilang sering mengunjungi penjara dan melakukan kegiatan sosial.

Meski memilki kepedulian sosial yang tinggi, tetapi berbeda dengan karir akademiknya. Pada 1849, Dunant yang sedang menempuh pendidikan di College Calvin harus menerima bahwa dirinya dikeluarkan karena prestasi akademiknya yang buruk. Ia kemudian menjadi pekerja magang di perusahaan penukaran uang bernama Lullin et Sautter. Setelah masa magangnya selesai dengan prestasi baik, dia diangkat sebagai karyawan bank tersebut.

Perjalanannya mengunjungi berbagai negara dimulai pada 1853, di mana Dunant mengunjungi Aljazair, Tunisia, dan Sisilia. Ia ditugaskan oleh perusahaan yang melayani wilayah-wilayah jajahan Setif, yaitu perusahaan bernama Compagnie genevoise de Colonies de Setif. Meski belum punya pengalaman, akhirnya Dunant berhasil menyelesaikan penugasan tersebut dengan memuaskan.

Masih dengan urusan bisnis yang sama, Dunant melakukan perjalanan kembali ke Solferino pada1859. Saat itu Solferino sedang mengalami perang mengerikan antara pasukan Prancis dan Italia melawan pasukan Austria di Solferino. Dunant tiba di sana tepat ketika pertempuran antara kedua pihak tadi baru saja selesai. Dia menyaksikan akibat-akibat dai Pertempuran Solferino

Perang mengerikan itu mengakibatkan tidak kurang 40.000 tentara terluka yang menjadi korban perang, sementara bantuan medis tidak cukup merawat korban sebanyak itu. Melihat hal tersebut, Dunant yang memilki rasa sosial tinggi, tergetar dengan penderitaan tentara yang terluka.

Henry Dunant kemudian bersama penduduk setempat mengerahkan bantuan menolong mereka. Pengalamannya yang luar biasa setelah membantu para korban perang membuatnya berpikir untuk menulis. Sekembalinya ia ke Jenewa pada awal Juli, Dunant akhirnya menulis sebuah buku tentang pengalamannya itu, yang kemudian dia beri judul Un Souvenir de Solferino (Kenangan Solferino). Buku ini diterbitkan pada 1862 dengan jumlah 1.600 eksemplar dan dicetak atas biaya Dunant sendiri.

Henry Dunant dalam hal ini mengajukan dua gagasan. Pertama, membentuk organisasi kemanusiaan internasional yang dapat dipersiapkan pendiriannya pada masa damai untuk menolong prajurit yang terluka di medan perang. Kedua, mengadakan perjanjian internasional guna melindungi prajurit yang cedera dan sukarelawan serta organisasinya yang menolong saat terjadinya perang.

Pada 1863, Henry Dunant bersama kawannya merealisasi gagasan yang ia ajukan tersebut dengan mendirikan komite internasional untuk nantuan para tentara yang cedera , sekarang disebut Komite Internasional Palang Merah atau Committee of the Red Cross (ICRC). Komite ini merupakan lembaga kemanusiaan bersifat mandiri netral dan sebagai penengah pada 1863.

Dalam perkembangannya, Palang Merah Internasional juga memiliki Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah atau International Federation of Red Cross dan Red Crescent (IFRC).

Semangat dan kepedulian Henry Dunant inilah yang kemudian mengilhami terbentuknya Perhimpunan Nasional Palang Merah Nasional dan Bulan Sabit Merah yang didirikan hampir di setiap negara di seluruh dunia berjumlah 176 perhimpunan nasional, termasuk Indonesia. Sedankan gagasan kedua mengenai perjanjian internasional direalisasi Pemerintah Swiss dengan mengadakan konferensi Jenewa yang menghasilkan Konvesi Jenewa (1864) dan terus dikembangkan sehingga dikenal sebagai Konvensi Jenewa 1949.

Atas segala dedikasi dan kepeduliannya pada 1901, Henry Dunant menerima Penghargaan Nobel Perdamaian yang pertama, bersama Frederic Passy. Totalitasnya membantu sesama bahkan sampai ia menutup usia pada 30 Oktober 1910, di mana ia mendonasikan sejumlah uang untuk menyediakan satu ranjang gratis di panti jompo di Heiden, yang harus selalu tersedia untuk warga miskin kawasan itu. Lebih dari itu, ia juga memberikan sejumlah uang melalui akte notaris kepada teman-temannya dan organisasi amal di Norwegia dan Swiss. Sebagai bentuk apresiasi atas jasanya, hari ulang tahunnya pada 8 Mei dirayakan sebagai Hari Palang Merah Sedunia.

Foto: redcrossgurgaon.com