Konten dari Pengguna

Kedatangan Orang-orang Tionghoa ke Nusantara

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah zaman Masehi, beberapa catatan berita Cina menyebutkan tentang perjalanan beberapa tokoh agama Budha dari daratan Cina ke India, dan singgah di berbagai tempat di Nusantara.

Mereka antara lain adalah Fa Hsien yang singgah di daerah yang disebut “Jawa,” dalam perjalanannya antara Cina dan India, pada 413 M (Masehi). Pendeta Budha Hwi Ning singgah di sebuah daerah yang disebut Holing (Jawa utara) pada tahun 664 M, dan Pendeta I Tsing singgah di Sriwijaya pada 671 M (Masehi).

Setelah adanya beberapa yang singgah, kepulauan Nusantara mulai dikenal orang Cina, khususnya para penguasanya. Yang kemudian membuat terjalinnya hubungan diplomatik antara beberapa kerajaan di Nusantara dengan penguasa daratan Cina. Dikatakan bahwa mulai tahun 904, kerajaan Sriwijaya di pantai timur Sumatera mengirim utusan diplomatik dan berdagang di Cina. Pada 1200, tercatat dalam kitab Chan Ju Kua tentang adanya dua kerajaan kuat di Nusantara, yaitu Sriwijaya di Sumatera dan Kediri di Jawa. Pada 1289, kaisar Cina Kubilai Khan mengirim seorang utusan, yaitu Meng Ki, ke Singosari di Jawa Timur, meminta agar Singosari mengakui kedaulatan kerajaan Cina atas daerah mereka. Namun raja Singosari tidak menggubris permintaan tersebut, merasa terhina, Kubilai Khan mengirimkan 10,000 serdadu untuk menghukum Singosari pada 1292. Sebagaimana diketahui, ekspedisi ini menemui kegagalan karena diperdayakan oleh menantu Raja Singasari, Raden Wijaya. Sebagian dari tentara Kubilai Khan yang lari kemudian tertinggal di Jawa dan menetap menjadi penduduk setempat

Perantauan orang Cina ke Nusantara, khususnya untuk keperluan dagang, baru muncul pada zaman dinasti Ming, persisnya pada akhir abad ke 14, ketika diberitakan adanya beberapa pedagang Cina yang menetap di Palembang dan Temasik (Singapura). Keadaan ini terus berlanjut sampai pada zaman kerajaan Melaka (yang berlangsung dari 1400 sampai 1511).

Di Jawa, pada tahun 1416, seorang penulis Cina yang ikut ekspedisi Laksamana Cheng Ho, yaitu Ma Huan, melaporkan tentang adanya komunitas-komunitas peniaga Cina di kota-kota pantai utara Jawa. Migrasi ke Nusantara dalam jumlah yang terhitung banyak pada masa berikutnya terjadi karena dua faktor. Pertama adalah pemberontakan-pemberontakan di daratan Cina pada zaman pergantian kekuasaan politik dari dinasti Ming ke dinasti Manchu, yang mendorong keluar pihak yang kalah dan dikejar-kejar. Kejadian ini bersamaan dengan masuknya Orang Eropah ke daratan Cina pada awal abad ke 16, yang membuat jalan ke Laut Selatan (Nan Yang), khususnya ke Nusantara. Menjelang akhir abad ke 19 sampai dasawarsa ketiga abad ke 20, terjadi lonjakan besar migrasi orang Cina ke Nusantara. Lonjakan ini terjadi karena pertama perubahan kebijakan pemerintah Cina terhadap para migran. Kini migran tidak lagi dipandang hina, tapi malah disokong dan dibanggakankarena banyak membawa uang masuk untuk keluarga mereka, karena itu larangan untuk meninggalkan negeri Cina dicabut. Kedua karena makin maraknya pemberontakan dan kerusuhan di daratan Cina.

puksipuksi.blogspot.co.id

(Baca juga: Mengenal Suku Bangsa Tionghoa I dan Mengenal Suku Bangsa Tionghoa II)