Dubes Rusia: Serangan Senjata Kimia di Suriah Bukan Ulah Militer Rusia

Puluhan orang tewas akibat serangan senjata kimia di Provinsi Idlib, Suriah, Selasa (4/4). Senjata kimia dijatuhkan oleh jet tempur Rusia di wilayah Khan Sheikhoun pada pagi hari. Duta Besar Rusia di Indonesia M. Galuzin mengatakan serangan tersebut bukan merupakan operasi militer Rusia. Ia menuding tuduhan tersebut muncul akibat propaganda barat.
"Sayang sekali, saya kecewa banyak media yang terjebak propaganda barat yang sangat cynical ini," ujar Galuzin di Wisma Duta Besar, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (4/4).

Galuzin mengingatkan bahwa Rusia datang ke Suriah karena diminta oleh pemerintah Suriah untuk memerangi terorisme, dan bukan untuk mengintervensi konflik yang terjadi di sana.
"Sementara itu, koalisi Amerika datang ke suriah tanpa ada perintah dari pemerintah Suriah, tapi tidak ada yang mempermasalahkan itu. Barat lah yang mengintervensi," ujar Gulazin.
"Saya heran kenapa tidak ada orang yang membenci barat padahal mereka berusaha terus menggulingkan pemerintah dan Presiden Suriah serta menyuplai senjata ke apa yang mereka anggap sebagai oposisi," lanjutnya.
Baca juga : Korban Tewas Senjata Kimia di Suriah Terus Bertambah
Rilis yang dikeluarkan Menteri Pertahanan Rusia, kata Gulazin, menyatakan bahwa angkatan udara Rusia tidak melakukan operasi apa pun saat terjadi serangan di Khan Sheikhoun.
"Yang terjadi sebenarnya adalah angkatan udara Suriah menyerang sarang teroris tempat mereka membuat senjata kimia yang akan digunakan untuk perang melawan tentara Suriah," ujarnya.
Menurut Gulazin, tentara Suriah tidak menggunakan senjata kimia melainkan menghancurkan pabrik senjata kimia milik kelompok pemberontak di Suriah. "Jadi terorisnya lah yang menggunakan senjata kimia," lanjutnya.
Gulazin mengaku heran mengapa sejumlah media dan organisasi pengamat hak asasi di Suriah yang berlokasi di London mengatakan hal yang berlawanan dengan isi rilis pemerintah Rusia.
"Sudah jelas bahwa Rusia tidak melakukan serangan kemarin. Ini hanya berita barat," ujarnya.
Baca juga : Soal Serangan Kimia di Suriah, Trump Malah Salahkan Obama
Sementara itu dalam tragedi bom bunuh diri di St. Petersburg Rusia pada Senin (3/4), kata Galuzin, pejabat tinggi Amerika pernah memberi pernyataan di muka umum bahwa jika Rusia memulai operasi di Suriah, akan ada lebih banyak peti mati.
"Hal ini diucapkan oleh pejabat negara yang mengaku sebagai negara yang anti teroris. Parahnya lagi, tragedi di Saint Petersburg ini diberitakan serupa dengan apa yang mereka katakan," jelas Galuzin.
