Konten dari Pengguna

Reformasi dan Tantangan Demokrasi Indonesia di Era Sekarang

Putri Nur Indah Susilowati

Putri Nur Indah Susilowati

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang. Menulis sebagai bagian dari proses belajar dan refleksi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Nur Indah Susilowati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto ilustrasi [unsplash/Nafalullah Haldis Saskara]
zoom-in-whitePerbesar
Foto ilustrasi [unsplash/Nafalullah Haldis Saskara]

Reformasi 1998 menjadi momen yang tak terlupakan dalam sejarah Indonesia. Ribuan mahasiswa dan masyarakat memenuhi Gedung DPR/MPR di Jakarta untuk untuk menuntut perubahan besar terhadap sistem pemerintahan yang otoriter pada saat itu. Gerakan ini disebabkan oleh krisis ekonomi Asia, pelanggaran hak asasi manusia, praktik korupsi yang tidak ada habisnya, dan kebebasan sipil yang terbatas.

Perjalanan Demokrasi Setelah Reformasi

Akibat dari kericuhan tersebut, pada tanggal 21 Mei 1998 Soeharto resmi mengundurkan diri dari jabatan presiden setelah 32 tahun berkuasa. Indonesiapun mulai memasuki era yang penuh dengan harapan. Banyak perubahan besar terjadi yang membuka jalan bagi demokrasi, diantaranya:

  1. Presiden dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilu yang demokratis dan langsung sehingga lebih jujur dan terbuka.

  2. Kebebasan pers dan berpendapat bagi media dan masyarakat.

  3. Masa jabatan presiden yang dibatasi maksimal 2 kali periode.

  4. Pembentukan lembaga KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) oleh pemerintah yang fokus menangani kasus korupsi.

Perubahan-perubahan ini menunjukan kemajuan yang signifikan dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

Tantangan Demokrasi saat ini

Namun meskipun begitu, demokrasi Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan yang serius, seperti:

  1. Kasus korupsi yang masih merajalela. Meskipun KPK sudah bekerja keras, kasus korupsi masih terus bermunculan dan semakin menurunkan kepercayaan masyarakat.

  2. Penyebaran informasi palsu atau hoaks dimedia sosial yang membuat masyarakat bingung sehingga tidak bisa membedakan mana opini dan mana yang fakta.

  3. Masalah kesenjangan dan pendidikan. Masih banyak rakyat yang hidup kekurangan dan akses pendidikan yang belum merata akan mempengaruhi kualitas demokrasi.

  4. Politik identitas yang semakin kuat. Beberapa politik masih memakai isu agama ataupun suku hanya untuk mendapatkan dukungan tanpa mempertimbangkan resiko perpecahan di kalangan masyarakat.

Apa yang Perlu Dilakukan?

Tentu saja semua pihak harus ikut berperan demi terjaganya demokrasi. Untuk menghadapi tantangan tersebut, banyak hal yang bisa dilakukan. Pemerintah dapat memperkuat lembaga anti korupsi agar bisa bekerja dengan lebih efektif lagi. Masyarakat juga harus melek politik dan tidak apatis. Jangan acuh terhadap isu-isu politik, karena semua kebijakan pasti akan berdampak langsung kepada masyarakat. Menggunakan hak suara dengan bijak untuk memilih pemimpin yang jujur dan memiliki visi & misi yang jelas. Meningkatkan literasi media digital dan lebih cerdas lagi dalam menyaring informasi agar tidak termakan hoaks. Serta menjaga toleransi dalam keberagaman sebagai fondasi kuat bangsa supaya tidak mudah terpecah dan diadu domba.

Reformasi memang telah membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Tapi perjuangan demokrasi masih panjang dan penuh tantangan. Kita semua harus ikut berperan menjaga supaya demokrasi tetap hidup, dan Indonesia bisa menjadi tempat yang bisa lebih adil dan maju untuk semua orang.