Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh partai-partai Arab melakukan kecurangan dalam pemilu yang digelar Selasa (27/10). Tuduhan itu disampaikan tanpa bukti, setelah partai-partai yang mewakili minoritas Arab meraih suara signifikan.
Dikutip dari Reuters, Kamis (29/10), Netanyahu dan sekutunya dari kelompok sayap kanan sebelumnya memperingatkan soal meningkatnya jumlah pemilih Arab. Partai Likud yang dipimpinnya bahkan menuduh partai-partai Arab telah “mencuri suara” dan meminta polisi serta badan intelijen domestik Shin Bet menyelidiki dugaan kecurangan.
Namun, pejabat pemilu Israel menyatakan tidak ada dasar untuk menyebut integritas pemilu terganggu secara sistematis. Shin Bet juga menegaskan penyelidikan tidak boleh menjadi alasan untuk mencurigai seluruh komunitas Arab yang telah menggunakan hak pilih secara demokratis.
Hampir 99 persen suara telah dihitung. Blok nasionalis-religius Netanyahu memperoleh 53 kursi, unggul tipis dari blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot dengan 48 kursi. Keduanya belum mencapai 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan mayoritas.
Sementara itu, partai-partai yang mewakili sekitar 21 persen populasi Arab Israel diproyeksikan memperoleh total 19 kursi, jumlah tertinggi sepanjang sejarah. Dukungan mereka berpotensi menentukan arah pembentukan pemerintahan berikutnya.
Ahmad Tibi, salah satu pemimpin Partai Joint List, menilai Netanyahu sedang menjalankan kampanye untuk merusak hasil pemilu dan menghalangi Eisenkot membentuk pemerintahan dengan dukungan partai-partai Arab.
“Seluruh kampanye ini diarahkan kepada Eisenkot, untuk mencegah, mengintimidasi, dan menakut-nakutinya agar tidak membentuk pemerintahan yang mengandalkan dukungan eksternal dari Joint List atau Ra'am,” kata Tibi kepada Reuters.
Pemimpin Ra'am, Mansour Abbas, juga membantah keterlibatan partainya dalam dugaan kecurangan. Ia menyebut tuduhan Netanyahu sebagai kampanye penghasutan dan delegitimasi terhadap warga Arab.
Presiden Israel Isaac Herzog turut mengingatkan agar tuduhan tersebut tidak diarahkan kepada seluruh komunitas Arab.
“Bahkan dalam situasi seperti ini, kita tidak boleh mencemarkan nama seluruh komunitas yang berusah