Bukan cuma karena banyak penumpang, kepadatan KRL Green Line atau jalur Rangkasbitung juga dipengaruhi keterbatasan kapasitas angkut dan frekuensi perjalanan kereta.
Sepanjang 2022–2025, jumlah penumpang di jalur ini melonjak 79%, dari 43,3 juta menjadi 77,6 juta orang per tahun. Namun, kereta yang beroperasi masih memiliki jeda sekitar 10 menit, lebih lama dibandingkan jalur Bogor yang bisa setiap 3–4 menit.
Kapasitas rangkaiannya pun masih terbatas hingga 10 kereta (SF10), sedangkan jalur Bogor dapat menggunakan rangkaian 12 kereta (SF12). Salah satu kendalanya adalah kapasitas listrik aliran atas yang perlu mendukung operasional rangkaian lebih panjang.
KAI menargetkan peningkatan frekuensi perjalanan menjadi setiap 4–5 menit dengan rangkaian SF12 pada semester pertama 2027.