Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bicara soal sikap negarawan. Menurutnya, seorang negarawan harus mampu menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi maupun partai politik.
Pernyataan tersebut disampaikan SBY saat memberikan orasi ilmiah dalam Dies Natalis ke-68 Fisip Unpad, Selasa (13/10).
Ia membahas perbedaan orientasi antara politisi yang berfokus pada kontestasi elektoral dan negarawan yang memikirkan masa depan bangsa dalam jangka panjang.
SBY menilai keinginan politisi untuk kembali menduduki jabatan melalui pemilihan umum bukanlah sesuatu yang salah. Namun, tanggung jawab seorang pemimpin tidak boleh berhenti pada upaya mempertahankan atau meraih kekuasaan.
“Politisi, biasanya yang dipikirkan pemilihan umum berikutnya lagi. Betul? Betul. Kalau gubernur, bupati, walikota, presiden, semoga terpilih kembali, itu sah, tidak salah. Anggota DPR RI, DPD, DPRD terpilih kembali, tidak salah, politisi. Tapi negarawan harus memikirkan masa yang jauh ke depan,” kata SBY.
Ia kemudian menegaskan bahwa negarawan tidak selalu identik dengan seseorang yang pernah menjabat sebagai presiden. Menurutnya, kualitas kenegarawanan ditentukan oleh cara seseorang memandang dan memperjuangkan kepentingan bangsa.
“Statesman, statesmen itu tidak harus mantan presiden. Bukan semua bisa menjadi negarawan, kalau memikirkan kepentingan bangsa dan negaranya,” ujarnya.
SBY menggarisbawahi prinsip country over party sebagai salah satu pegangan penting dalam kehidupan politik. Ia mengingatkan agar partai politik tidak menjadi tujuan utama hingga mengesampingkan kepentingan negara.
“Country over party. Country first. Jangan dibalik. Jangan partai politik yang diutamakan, negaranya belakangan. Wrong,” tegasnya.