Konten dari Pengguna

"Ketagihan" Bukan Cuma soal Rasa: Ketika Konten Masak Jadi Pamali Versi Digital

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Qurota Ayunin Fauziah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi AI tutorial memasak
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI tutorial memasak

Pamali Versi Digital

Coba buka FYP-mu sekarang. Kemungkinan besar kamu akan menemukan satu video: tangan seorang ibu content creator menumis bumbu dengan gerakan yang rapi, suaranya bilang, "ini resep biar paksu makin sayang," lalu di caption tertulis "resep pengunci hati suami" lengkap dengan emoji hati berjajar.

Kontennya ringan, bahkan menghibur. Resepnya beneran enak dan gampang diikuti. Tapi coba perhatikan lagi bahasanya. Ada sesuatu yang familiar di situ, sesuatu yang dulu kita dengar dalam bentuk lain: "nyapunya yang bersih, nanti suamimu brewokan." Bedanya, sekarang bungkusnya bukan lagi nasihat ibu di dapur rumah, tapi konten yang di-like ratusan ribu kali.

Dari mulut ke mulut, jadi mulut ke algoritma

Pamali seperti ini dulu diwariskan lewat rantai yang sangat intim, dari ibu ke anak perempuannya, biasanya baru terasa relevan begitu si anak mendekati usia menikah atau sudah berumah tangga. Sekarang jalurnya berubah total. Yang menyampaikan bukan cuma ibu kandung, tapi ribuan akun masak yang FYP-nya menjangkau siapa saja, termasuk anak SMP yang bahkan belum kepikiran pacaran.

Coba bandingkan pola bahasanya secara berdampingan. Pamali lama bilang, "nyapunya yang bersih, nanti suamimu brewokan," atau "ngulek bumbunya yang halus biar disayang mertua." Konten masak hari ini bilang, "resep ini dijamin bikin suami nggak mau makan di luar lagi," atau "auto sayang seumur hidup kalau masakin ini tiap hari." Strukturnya identik: ada instruksi teknis (nyapu yang bersih, ngulek yang halus, masak resep ini), lalu ada janji sebagai imbalannya (disayang, tidak diselingkuhi, dicintai seumur hidup). Bedanya cuma satu diucapkan di dapur rumah dengan suara ibu, satu lagi direkam dengan pencahayaan bagus dan musik latar yang catchy.

Yang membuat versi algoritma ini justru lebih berbahaya secara jangkauan adalah soal timing dan skala. Pamali lama biasanya baru "diaktifkan" ketika anak perempuan dianggap cukup umur, sering kali menjelang atau setelah menikah, dan penyebarannya terbatas pada lingkup keluarga atau tetangga. Konten masak di media sosial tidak mengenal batas usia audiens. Algoritma tidak peduli penontonnya sudah menikah atau masih kelas 8 SMP, asal videonya menarik, ia akan terus didorong ke FYP siapa saja. Artinya, internalisasi nilai "masak = cara mengunci sayang pasangan" bisa terjadi bertahun-tahun sebelum seseorang benar-benar berumah tangga, bahkan sebelum mereka pernah pacaran.

Kenapa ini terasa lebih ringan, padahal fungsinya sama

Pamali lama diucapkan sebagai larangan atau instruksi langsung, dan justru karena terdengar seperti aturan, ia mudah dikenali sebagai kontrol. "Jangan duduk di depan pintu" jelas-jelas sebuah perintah, dan perintah itu wajar untuk dipertanyakan: kenapa harus begitu, siapa yang menentukan.

Konten masak ini kehilangan bentuk perintah itu, dan justru di situ letak kelicikannya. Ia disampaikan dalam kalimat orang pertama yang terdengar seperti pilihan bebas: "aku suka masak ini," "ini resep andalanku," "aku tuh emang niatin masak buat orang rumah." Karena dibingkai sebagai preferensi pribadi, bukan sebagai aturan, konten ini jadi jauh lebih sulit dikritik tanpa terdengar menyerang pilihan personal seseorang. Padahal kalau ditelusuri, ukuran keberhasilannya tetap sama seperti pamali lama, yaitu respons dari suami atau pasangan. Validasinya tidak pernah datang dari "aku senang bikin ini" saja, tapi selalu diikuti embel-embel "dan dia jadi makin sayang," "dan dia nggak berhenti muji," "dan dia jadi nggak mau pulang telat lagi."

Algoritma memperkuat pola ini lewat mekanisme yang cukup sederhana: konten yang menegaskan peran gender konvensional biasanya terasa familiar, aspirational, dan menenangkan untuk ditonton, terutama karena banyak penonton yang tumbuh dengan narasi serupa dari rumah masing-masing. Rasa familiar itu membuat retensi tonton lebih tinggi, watch time lebih panjang, dan pada akhirnya video semacam ini yang lebih sering direkomendasikan sistem dibanding konten yang menantang narasi itu. Jadi bukan cuma soal niat pembuat kontennya, yang mungkin memang tulus dan tidak bermaksud mendomestikasi siapa pun, tapi soal sistem rekomendasi yang secara struktural terus memberi panggung lebih besar untuk narasi yang itu-itu saja, persis seperti pamali lama yang bertahan bukan karena ada pihak jahat yang sengaja menyebarkannya, tapi karena diwariskan dengan tulus oleh orang-orang yang percaya sedang melindungi, bukan mengontrol.

Bukan soal berhenti masak atau berhenti bikin konten

Penting untuk jelas di sini: masalahnya bukan pada masak, bikin resep, atau bikin konten kuliner. Itu semua skill yang bagus, layak dibanggakan, dan bisa dinikmati siapa pun tanpa embel-embel gender. Masalahnya ada di narasi yang menempel di skill itu, bahwa nilai seorang perempuan lewat masakannya diukur dari seberapa "sayang" suaminya jadi karenanya.

Jadi buat teman-teman yang senang bikin konten masak, ini bukan ajakan untuk berhenti. Justru sebaliknya, ini kesempatan untuk membingkai ulang:

1. Jadikan resep sebagai value, bukan validasi. Ganti framing "biar paksu tambah sayang" jadi "resep ini gampang dan enak, cocok buat kamu yang sibuk tapi tetap mau makan enak." Kontennya tetap sama menariknya, tapi nilai yang ditawarkan adalah kepraktisan dan rasa, bukan skor kesetiaan pasangan.

2. Arahkan ke skill dan potensi bisnis. Banyak konten masak yang justru sukses besar ketika framing-nya bergeser ke arah personal branding atau bahkan cikal bakal usaha, jualan bumbu, kelas masak online, katering kecil-kecilan. Ini mengubah masak dari "bukti cinta" jadi "modal keterampilan" yang bernilai secara ekonomi, dan kepemilikannya kembali ke diri sendiri.

3. Boleh juga cuma karena seneng. Nggak semua konten harus punya tujuan besar. "Aku masak ini karena lagi jenuh dan pengen having fun di dapur" itu cukup valid sebagai alasan, bahkan lebih jujur daripada dipaksa punya narasi romantis yang sebenarnya nggak selalu relevan buat si pembuat konten.

Intinya, dapur dan skill masak nggak pernah jadi masalah. Yang perlu terus dipertanyakan adalah kenapa nilai perempuan di dapur selalu harus dikembalikan ke satu orang: suaminya. Sementara laki-laki yang jago masak jarang sekali dinarasikan sebagai "biar istri makin sayang." Ketimpangan kecil dalam bahasa ini, kalau dibiarkan terus, akan tetap mewariskan pamali yang sama, hanya dengan kemasan yang jauh lebih menarik untuk di-scroll.