Menilik Peran Pustakawan dalam Penerapan Kurikulum Merdeka

Rachmi Yamini
ASN Pemprov. DKI Jakarta - Pustakawan - Pecinta Damai
Konten dari Pengguna
6 Desember 2023 11:44 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Rachmi Yamini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seorang pengunjung mencari buku bacaan di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (11/7/2022). Foto: Budi Prasetio/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pengunjung mencari buku bacaan di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (11/7/2022). Foto: Budi Prasetio/ANTARA FOTO

Kurikulum Merdeka

ADVERTISEMENT
Kurikulum Merdeka bukanlah hal yang familiar bagi saya yang secara profesi tidak bergerak secara langsung di bidang pendidikan, baik sebagai pengajar apalagi sebagai pelajar. Beberapa kali saya melihat informasi tentang Kurikulum Merdeka di media online. Sebagai pustakawan, beberapa kali saya melihatnya pada judul buku saat seleksi bahan perpustakaan. Sebenarnya apa itu Kurikulum Merdeka dan bagaimana kaitannya dengan pustakawan?
ADVERTISEMENT
Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum nasional yang mulai diterapkan tahun 2022 untuk jalur mandiri dan akan mulai diimplementasikan secara nasional pada tahun 2024 mendatang. Setelah diterapkan selama 11 tahun, Kurikulum 2013 akan digantikan dengan Kurikulum Merdeka yang dianggap lebih sederhana namun lebih mendalam.
Dibandingkan dengan kurikulum pendahulunya, Kurikulum Merdeka memiliki pembelajaran intrakurikuler beragam yang memungkinkan keleluasaan bagi guru dalam pemilihan alat bantu ajar yang disesuaikan dengan kebutuhan dan minat belajar peserta didik. Selain itu, pada Kurikulum Merdeka terdapat konsep profil pelajar Pancasila yang menjadi muara atau tujuan dari seluruh aktivitas pembelajaran yang dilakukan pada Kurikulum Merdeka.
Agar peserta didik mencapai kompetensi dan karakter dalam profil pelajar Pancasila, selain aktivitas intrakurikuler, diperlukan juga penguatan dari aktivitas ekstrakurikuler dan program lainnya dengan alokasi waktu tersendiri.
ADVERTISEMENT
Agar Kurikulum Merdeka dapat diterapkan secara berkelanjutan, maka diperlukan beberapa faktor pendukung, antara lain regulasi yang fundamental yang menjadi acuan pengembangan kompetensi guru, kepala sekolah, dan hal yang berkaitan lainnya; sistem asesmen untuk menilai kemampuan bernalar peserta didik; dan dukungan publik.
Dukungan orang tua juga menjadi salah satu kunci keberhasilan penerapan Kurikulum Merdeka sebagai pendamping belajar anak. Perpustakaan sekolah sebagai bagian integral perpustakaan juga tidak luput dari tugas penting mendukung masyarakat sekolah dalam menerapkan Kurikulum Merdeka.

Peran Perpustakaan dalam Penerapan Kurikulum Merdeka

Keberhasilan penerapan Kurikulum Merdeka harus didukung juga oleh seluruh lingkungan sekolah, termasuk perpustakaan sekolah. Sebagai bagian integral sekolah, perpustakaan sekolah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sekolah, bukan sekadar pendukung atau pilihan antara ada dan tiada. Keberadaan dan fungsi sekolah tidak akan sempurna tanpa adanya perpustakaan sekolah, termasuk dalam penerapan Kurikulum Merdeka yang tidak dapat berjalan dengan maksimal tanpa peran dari perpustakaan sekolah.
ADVERTISEMENT
Perpustakaan sekolah merupakan salah satu tempat terbaik bagi guru dan peserta didik untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Perpustakaan sebagai sumber informasi dan pengetahuan berperan dalam penyediaan koleksi perpustakaan, baik tercetak maupun digital dengan variasi bentuk, tema, dan judul. Koleksi perpustakaan tersebut tentunya disesuaikan dengan kebutuhan pemustaka dan dikelola dengan sebagaimana mestinya sehingga dapat dicari dan dimanfaatkan dengan mudah.
Perpustakaan juga berperan dalam memfasilitasi guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Bersama guru, perpustakaan dapat turut berperan dalam penyediaan sarana belajar mandiri bagi peserta didik untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan nalarnya dalam memahami pembelajaran. Selain itu, perpustakaan juga dapat mengembangkan berbagai program literasi yang berperan dalam meningkatkan kompetensi literasi guru dan peserta didik. Berbagai aktivitas literasi yang dikembangkan oleh perpustakaan juga dapat meningkatkan minat baca peserta didik.
ADVERTISEMENT
Untuk mewujudkan peran ideal perpustakaan sekolah tersebut, perlu adanya sinergi yang baik setidaknya antara kepala sekolah sebagai pembuat kebijakan, guru dan peserta didik sebagai pemustaka, dan pustakawan sebagai pengelola perpustakaan sekolah.

Pustakawan Juga Berperan dalam Kurikulum Merdeka

Siswa belajar di kelas usai orang tua siswa mengadu di ke DPRD Kota Depok terkait relokasi SDN Pondok Cina 1, Kecamatan Beji, Kota Depok, Senin (14/11/2022). Foto: Dok. Istimewa
Pustakawan sebagai pengelola perpustakaan sekolah tentu tidak luput dari peran penting dalam mendukung keberhasilan penerapan Kurikulum Merdeka. Pustakawan perpustakaan sekolah dapat mendukung manajemen pembelajaran dengan turut serta dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelayanan perpustakaan yang berkaitan dengan penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah.
Pustakawan perpustakaan sekolah tentunya bertanggung jawab dalam pemilihan bahan perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran guru dan peserta didik. Kegiatan seleksi bahan perpustakaan ini dapat diawali dengan melakukan survei kebutuhan pemustaka sehingga koleksi perpustakaan yang ada di perpustakaan sekolah benar-benar bersinergi dengan kebutuhan pemustakanya, tidak hanya sekumpulan buku paket dari kurikulum sebelumnya atau tumpukan buku berdebu yang tidak dimanfaatkan.
ADVERTISEMENT
Pustakawan perpustakaan sekolah juga dapat memberikan layanan penelusuran informasi sehingga membantu guru dan peserta didik dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Pendidikan pemustaka juga dapat dilakukan untuk membantu pemustaka mampu mencari dan memanfaatkan sumber daya perpustakaan secara mandiri.
Tidak hanya mengelola perpustakaan sekolah, tetapi pustakawan perpustakaan sekolah beserta guru juga harus dapat memberikan inspirasi dan menjadi contoh yang baik bagi peserta didik dalam berliterasi. Tidak menutup kesempatan, pustakawan perpustakaan sekolah juga dapat bekerja sama dan berkolaborasi dengan perpustakaan umum setempat dalam penyediaan koleksi perpustakaan dan aktivitas literasi.
Layananan Perpustakaan Keliling (Sumber: Dokumentasi Perpustakaan Jakarta Selatan)
Sebagai pustakawan perpustakaan umum, tidak pernah terpikir oleh saya sebelumnya bahwa saya dapat turut berkontribusi dalam mendukung Kurikulum Merdeka meskipun secara tidak langsung. Selain melaksanakan tugas pokok dan fungsi perpustakaan umum dalam hal pembinaan petugas perpustakaan sekolah, pustakawan perpustakaan umum juga dapat membuka kesempatan kolaborasi bersama pustakawan perpustakaan sekolah.
ADVERTISEMENT
Caranya yaitu dengan memenuhi permintaan penyediaan perpanjangan layanan perpustakaan dan penyediaan alternatif bahan bacaan, misalnya dengan layanan perpustakaan keliling. Selain itu, kolaborasi dalam bentuk pelaksanaan aktivitas literasi yang edukatif sekaligus rekreatif juga dapat membantu meningkatkan minat baca peserta didik.
Selain itu, ternyata saya juga bisa berkontribusi dalam Kurikulum Merdeka dengan menjadi editor beberapa buku teks dan buku nonteks. Meskipun bukan peran yang cukup besar, namun kesempatan ini tentu tidak saya sia-siakan. Kurikulum Merdeka dan menjadi seorang editor merupakan hal yang sama sekali baru bagi saya, tapi bukan hal yang sama sekali asing. Belakangan saya menyadari bahwa ternyata keduanya justru menjadi sarana bagi saya untuk belajar lagi dan lagi.
Kira-kira, kontribusi apa lagi yang dapat pustakawan berikan bagi kurikulum pendidikan di Indonesia?
ADVERTISEMENT